<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917</id><updated>2011-09-11T04:31:11.957-07:00</updated><title type='text'>fadya</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-4336667353832659962</id><published>2010-12-14T20:26:00.001-08:00</published><updated>2010-12-14T20:27:56.349-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title"&gt;   Tentang Bayam     &lt;/h3&gt;                      &lt;p&gt;       &lt;/p&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1239/772/1600/bayam.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1239/772/320/bayam.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Anak Anda sudah mulai diperkenalkan dengan sayuran?&lt;br /&gt;Yiha....  bagus dooong. Tapi, ada tapinya neeh. Kalau untuk makanan yang  mengadung bayam (misalnya nasi tim bayam) cukup buat satu porsi aja ya.  Intinya, jangan pernah memanasi makanan yang mengandung bayam. Loh,  kenapa? Ada beberapa alasan seeh. Setelah tengok sana-sini, ketemu  beberapa. Ini dia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. &lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Bayam mengandung zat besi yang berupa Fe2+ (ferro).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;  Kalau dia terlalu lama kontak dengan O2 (oksigen dari udara), Fe2+ akan  teroksidasi menjadi Fe3+ (ferri). Meski sama-sama zat besi, yang  berguna bagi kita adalah ferro. Sedangkan ferri bersifat toxid pada  bayam. Jadi, kalau bayam dipanasi, akan berlaku oksidasi tersebut.  --&gt; Aku duluw bingung kenapa ibuku selalu melarang memanasi sayur  bening. Blio sih gak bisa jelasin secara ilmiah gituw, tp selalu bilang:  sayur bayam, klow belon habis, jangan dipanasi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. &lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Jangan pernah mengonsumsi bayam lebih dari 5 jam (maksa banget nih!!!).&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;Soalnya,  selain mengandung zat yg disebutin tadi itu, bayam juga mengandung zat  Nitrat (NO3). Kalau teroksidasi oleh udara, maka akan menjadi NO2  (nitrit). Nitrit adalah senyawa yang tidak berwarna, tidak berbau, dan  bersifat racun bagi tubuh manusia.&lt;br /&gt;Menurut John S Wishnok, bayam  segar yang baru dicabut dari persemaiannya telah mengandung senyawa  nitrit kira-kira sebanyak 5 mg/kg. Bila bayam disimpan di lemari es  selama 2 minggu, kadar nitrit akan meningkat sampai 300 mg/kg. Dengan  kata lain, dalam 1 hari penyimpanan, senyawa nitrit akan meningkat 21  mg/kg (7%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek toksik (meracuni tubuh) yang ditimbulkan oleh  Nitrit bermula dari reaksi oksidasi Nitrit dengan zat besi dalam sel  darah merah, tepatnya di dalam Hemoglobin (Hb). Telah kita ketahui bahwa  salah satu tugas hemoglobin adalah mengikat oksigen untuk disalurkan ke  seluruh organ tubuh. Ikatan nitrit dengan hemoglobin, disebut  Methemoglobin, mengakibatkan hemoglobin tidak mampu mengikat oksigen.  Jika jumlah methemoglobin mencapai lebih dari 15% dari total hemoglobin,  maka akan terjadi keadaan yang disebut Sianosis, yaitu suatu keadaan  dimana seluruh jaringan tubuh manusia kekurangan oksigen. Jika hal ini  terjadi pada bayi dikenal dengan nama “Blue Baby”.&lt;br /&gt;Efek toksik  lainnya adalah kemampuan nitrit bereaksi dengan Amino sekunder dapat  membentuk senyawa yang dapat menyebabkan kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. &lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;O,ya jangan masak bayam pake panci alumunium yach&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;... soalnya bisa bereaksi dengan zat besi yang ada di bayam, dan... jadi racun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Tips mengkonsumsi bayam&lt;br /&gt;* Pilih bayam yang baru dipetik dan masih segar&lt;br /&gt;* Hendaknya langsung diolah setelah mendapatkan bayam segar&lt;br /&gt;* Jangan terlalu lama disimpan dalam lemari es&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi  takut mengonsumsi bayam?? JANGAN... soalnya, kandungan nutrisinya  sangat TOP BGT. Bahkan, bayam disebut sebagai King of Vegetables. Nah  lo....&lt;br /&gt;Moga membantu yaaaa.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;@Sumber: dari berbagai sumber&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-4336667353832659962?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/4336667353832659962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=4336667353832659962' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/4336667353832659962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/4336667353832659962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2010/12/tentang-bayam-anak-anda-sudah-mulai.html' title=''/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-1328595480939042415</id><published>2010-12-14T20:26:00.000-08:00</published><updated>2010-12-14T20:27:16.064-08:00</updated><title type='text'>Tentang Bayam</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title"&gt;   Tentang Bayam     &lt;/h3&gt;                      &lt;p&gt;       &lt;/p&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1239/772/1600/bayam.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1239/772/320/bayam.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Anak Anda sudah mulai diperkenalkan dengan sayuran?&lt;br /&gt;Yiha....  bagus dooong. Tapi, ada tapinya neeh. Kalau untuk makanan yang  mengadung bayam (misalnya nasi tim bayam) cukup buat satu porsi aja ya.  Intinya, jangan pernah memanasi makanan yang mengandung bayam. Loh,  kenapa? Ada beberapa alasan seeh. Setelah tengok sana-sini, ketemu  beberapa. Ini dia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. &lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Bayam mengandung zat besi yang berupa Fe2+ (ferro).&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;  Kalau dia terlalu lama kontak dengan O2 (oksigen dari udara), Fe2+ akan  teroksidasi menjadi Fe3+ (ferri). Meski sama-sama zat besi, yang  berguna bagi kita adalah ferro. Sedangkan ferri bersifat toxid pada  bayam. Jadi, kalau bayam dipanasi, akan berlaku oksidasi tersebut.  --&gt; Aku duluw bingung kenapa ibuku selalu melarang memanasi sayur  bening. Blio sih gak bisa jelasin secara ilmiah gituw, tp selalu bilang:  sayur bayam, klow belon habis, jangan dipanasi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. &lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Jangan pernah mengonsumsi bayam lebih dari 5 jam (maksa banget nih!!!).&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;Soalnya,  selain mengandung zat yg disebutin tadi itu, bayam juga mengandung zat  Nitrat (NO3). Kalau teroksidasi oleh udara, maka akan menjadi NO2  (nitrit). Nitrit adalah senyawa yang tidak berwarna, tidak berbau, dan  bersifat racun bagi tubuh manusia.&lt;br /&gt;Menurut John S Wishnok, bayam  segar yang baru dicabut dari persemaiannya telah mengandung senyawa  nitrit kira-kira sebanyak 5 mg/kg. Bila bayam disimpan di lemari es  selama 2 minggu, kadar nitrit akan meningkat sampai 300 mg/kg. Dengan  kata lain, dalam 1 hari penyimpanan, senyawa nitrit akan meningkat 21  mg/kg (7%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek toksik (meracuni tubuh) yang ditimbulkan oleh  Nitrit bermula dari reaksi oksidasi Nitrit dengan zat besi dalam sel  darah merah, tepatnya di dalam Hemoglobin (Hb). Telah kita ketahui bahwa  salah satu tugas hemoglobin adalah mengikat oksigen untuk disalurkan ke  seluruh organ tubuh. Ikatan nitrit dengan hemoglobin, disebut  Methemoglobin, mengakibatkan hemoglobin tidak mampu mengikat oksigen.  Jika jumlah methemoglobin mencapai lebih dari 15% dari total hemoglobin,  maka akan terjadi keadaan yang disebut Sianosis, yaitu suatu keadaan  dimana seluruh jaringan tubuh manusia kekurangan oksigen. Jika hal ini  terjadi pada bayi dikenal dengan nama “Blue Baby”.&lt;br /&gt;Efek toksik  lainnya adalah kemampuan nitrit bereaksi dengan Amino sekunder dapat  membentuk senyawa yang dapat menyebabkan kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. &lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;O,ya jangan masak bayam pake panci alumunium yach&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;... soalnya bisa bereaksi dengan zat besi yang ada di bayam, dan... jadi racun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Tips mengkonsumsi bayam&lt;br /&gt;* Pilih bayam yang baru dipetik dan masih segar&lt;br /&gt;* Hendaknya langsung diolah setelah mendapatkan bayam segar&lt;br /&gt;* Jangan terlalu lama disimpan dalam lemari es&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi  takut mengonsumsi bayam?? JANGAN... soalnya, kandungan nutrisinya  sangat TOP BGT. Bahkan, bayam disebut sebagai King of Vegetables. Nah  lo....&lt;br /&gt;Moga membantu yaaaa.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;@Sumber: dari berbagai sumber&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-1328595480939042415?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/1328595480939042415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=1328595480939042415' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/1328595480939042415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/1328595480939042415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2010/12/tentang-bayam.html' title='Tentang Bayam'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-5810215834871405696</id><published>2008-12-09T23:24:00.001-08:00</published><updated>2008-12-09T23:26:15.368-08:00</updated><title type='text'>Nikmat Dunia hanya Sebentar</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Adalah seorang pemuda yang tengah berjalan- jalan ditepi hutan untuk&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Mencari udara segar, ketika dia tengah berjalan, tiba -tiba terdengarlah&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Bunyi auman suara harimau… Auuuummmm….!!!!! Seekor harimau yang&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Sedang lapar Dan mencari mangsa untuk mengisi perutnya Dan  tiba-tiba&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Sudah berada dihadapan pemuda . Pemuda tadi karena takut,&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Diapun &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Berlari semampu dia bisa, Harimau yang sedang lapar tentunya tidak&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Begitu saja melepas mangsa empuk di depan matanya, harimau itupun&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Mengejar pemuda tadi. Ditengah kepanikkannya, pemuda tadi masih sempat&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Berdoa, agar  diselamatkan  dari terkaman harimau,…rupanya doanya&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Dikabulkan, dalam pelariannya dia melihat sebuah sumur tua,..terlintas&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Dibenaknya untuk masuk kedalam sumur itu,..karena harimau pasti tidak&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Akan mengejarnya ikut masuk kesumur tersebut.&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Beruntungnya lagi ternyata sumur tersebut ditengahnya &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Ada&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt; tali  menjulur&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Ke bawah, jadi pemuda tadi tidak harus melompat yang mungkin saja bisa&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Membuat kakinya patah karena dalamnya sumur tersebut. Tapi ternyata tali&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Itu pendek Dan takkan sanggup membantu dia sampai kedasar sumur, hingga&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Akhirnya dia bergelayut ditengah-tengah sumur, ketika tengah bergelayut&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Dia menengadahkan mukanya keatas ternyata  harimau tadi masih menunggunya&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Dibibir sumur, Dan ketika dia menunduk kebawah, terdengar suara kecipak&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Air,..setelah diamati ternyata &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Ada&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt; 2 ekor buaya yang ganas yang berusaha&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Menggapai badannya,.&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Ya Allah  bagaimana ini, diatas aku ditunggu harimau, dibawah buaya siap&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Menerkamku, ketika dia tengah berpikir caranya keluar, tiba-tiba dari&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Pinggir sumur yang &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Ada&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt; lobangnya keluarlah seekor tikus putih&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;..ciiit…ciiit… .ciit…yang naik  meniti tali pemuda tadi Dan mulai&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Menggerogoti tali pemuda tadi,..belum hilang keterkejutannya dari lobang&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Satunya lagi muncul seekor tikus hitam yang melakukan hal sama seperti&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Tikus putih menggerogoti tali yang dipakai pemuda tuk bergelantungan.&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Waduh …jika tali ini putus, .habislah riwayatku dimakan buaya..!!!&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Cemas dia berpikir,…jika aku naik keatas ..sudah pasti  harimau&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Menerkamku,. .jika menunggu disini…lama-lama tali ini akan putus Dan&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Buaya dibawah siap menyongsongku… Saat itulah dia mendengar dengungan&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Rombongan lebah yang sedang mengangkut madu untuk dibawa kesarang&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Mereka,..dia mendongakkan wajahnya keatas..Dan tiba-tiba jatuhlah&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Setetes madu dari lebah itu langsung tertelan ke mulut pemuda tadi.&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Spontan pemuda &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Tadi berkata…Subhanallah .Alangkah manisnya madu&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Ini,..baru sekali ini aku merasakan madu semanis Dan selezat ini…!!!&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Dia lupa akan ancaman buaya Dan harimau tadi.&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Tahukah kamu, inti dari cerita diatas…???&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Pemuda tadi adalah Kita semua, harimau yang mengejar adalah maut  Kita,&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Ajal memang selalu mengejar Kita. Jadi ingatlah akan mati.&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Dua ekor buaya adalah malaikat munkar Dan nakir yang menunggu Kita&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Di &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Alam kubur Kita nantinya .&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Tali tempat pemuda bergelayut adalah panjang umur Kita,..jika talinya&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Panjang maka pendeklah umur Kita, jika talinya pendek maka  panjanglah&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Umur Kita.&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Tikus putih Dan tikus hitam adalah dunia Kita siang Dan juga malam yang&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Senantiasa mengikis umur Kita. Diibaratkan di cerita tadi tikus yang&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Menggerogoti tali pemuda.&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Madu setetes adalah nikmat dunia yang hanya sebentar. Bayangkan madu&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Setetes tadi masuk kemulut  pemuda,…sampai  dia lupa akan ancaman harimau&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Dan buaya,..begitulah Kita, ketika Kita menerima nikmat sedikit, Kita&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Lupa kepada Allah. Ketika susah baru ingat kepada Allah.. Astaghfirullah&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;1 menit untuk mengingat &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Allah.&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Sebutlah dengan sepenuh hati Dan lidah yang fasih akan:&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;*SUBHANA’LLAH&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;*ALHAMDULI’LLAH&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;*LA I LAHA ILLA’LLAH&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;*ALLAHU AKBAR&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;*ASTAGHFIRU’ LLAH&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;*LA ILAH ILLA’LLAH, MUHAMMADUN RASULU’LLAH&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;*ALLAHUMMA SHOLLI &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;ALA&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt; WA SALLIM WABARIK &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;ALA&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt; SAYYEDINA MUHAMMAD *WA&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;AALIHI WA SAHBIHI AJMA’EEN&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-5810215834871405696?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/5810215834871405696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=5810215834871405696' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/5810215834871405696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/5810215834871405696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/12/nikmat-dunia-hanya-sebentar.html' title='Nikmat Dunia hanya Sebentar'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-4576047397621011902</id><published>2008-12-03T00:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T00:00:01.107-08:00</updated><title type='text'>Narsiskah Anda?</title><content type='html'>&lt;span class="style4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:11;" arial="" serif="" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Pengertian Narsisme&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span arial="" serif=""  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  style="font-size:10;"&gt;Termasuk narsiskah kalau kita suka memajang foto-foto kita bersama pejabat, artis, tokoh agama, atau kelompok publik figur lain di ruang kerja atau di ruang tamu? Termasuk narsiskah kalau kita menaruh foto kita dan keluarga di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;desktop&lt;/span&gt; komputer di kantor? Termasuk narsiskah kalau kita mengkalungkan aksesoris keagamaan, seperti tasbih, salib, atau lainnya, di mobil atau di leher? &lt;/span&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="FI" style="font-size:10;"&gt;Termasuk narsiskah kalau kita kemana-mana mendeklarasikan kesuksesan yang kita raih selama ini? &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="FI" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kalau melihat definisinya Otto Kernberg (Borderline Condition and Pathological Narcissism: 1975), ternyata jawabannya tidak se-hitam-putih seperti yang selama ini berlaku. &lt;/span&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;Itu bisa narsis dan bisa tidak, tergantung motif dan "&lt;i&gt;nawaitu&lt;/i&gt;-nya" (untuk apanya). Menurut Kernberg, narsis itu mencakup berbagai kombinasi dari upaya seseorang dalam mendemonstrasikan ambisi, fantasi-kemewahan, rasa rendah diri, atau kebergantungan secara berlebihan terhadap pengakuan dan penghormatan dari orang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, narsisme didefinisikan ke dalam pengertian yang sangat terkait dengan mitos di Yunani Kuno. Seorang dewa Narcis yang tampan rupawan terkena kutuk karena ulahnya yang kurang empatik dalam menolak cinta Dewi Eco. Akhirnya, meski ganteng, tak satu pun perempuan yang mencintainya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Narcis kemudian berkaca di air dan melihat dirinya sendiri yang tampan itu. Jadilah dia mencintai dirinya sendiri. Karena itu, dalam Kamus itu, narsis adalah hal / keadaan mencintai diri sendiri secara berlebihan, mempunyai kecenderungan seksual dengan diri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="FI" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jadi, termasuk nariskah bila kita melakukan hal-hal di muka? Kalau mengacu ke literaturnya, itu akan termasuk narsis apabila motif yang mendorong kita adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rasa takut, rasa kurang, atau rasa kosong, dan tujuannya adalah untuk mendapatkan pemenuhan dari luar (orang lain). Misalnya saja kita sangat takut dikatakan orang miskin. Supaya ini tidak terjadi maka kita menciptakan berbagai modus untuk mengelabuhi diri sendiri dan orang lain agar dibilang orang kaya, orang hebat, atau orang terpandang. &lt;/span&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;Narsisme seperti ini dalam kajian literaturnya dimasukkan ke dalam apa yang disebut &lt;i&gt;personality disorder&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Namun jika motif dan tujuannya tidak seperti itu, mungkin saja tidak. Misalnya kita menaruh foto sukses biar kita termotivasi saat mulai depresi. Kita menceritakan kesuksesan agar orang lain bisa mengambil pelajaran dari pengalaman kita. Dan lain-lain dan seterusnya. Ini mungkin yang membuat Andrew Marisson (The Underside of Narcissism: 1997), berkesimpulan bahwa masih ada narsis yang sehat (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;healthy narcissism&lt;/span&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span arial="" serif=""  style="font-size:11;"&gt;Lima Tipe Narsisme&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  style="font-size:10;"&gt;Inti dari narsisme adalah penolakan seseorang terhadap realitas dirinya secara tidak sehat (berbohong kepada diri sendiri), &lt;i&gt;denial of the true self&lt;/i&gt;, kata Alexader Lowen. Penolakan ini kita wujudkan dalam bentuk rasa cinta berlebihan terhadap bayangan yang kita ciptakan terhadap diri sendiri (&lt;i&gt;self-excessive love based on self image or ego&lt;/i&gt; ).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="FI" style="font-size:10;"&gt;Misalnya saja kita tidak bisa menerima realitas diri kita di kantor sebagai karyawan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kita kemudian menciptakan bayangan tentang diri sendiri seolah-olah kita adalah pemilik, orang paling dipercaya, atau orang paling hebat di kantor itu. Karena bayangan ini tidak / belum ada bukti pada diri kita, tentunya kita ingin mendapatkan pengakuan atau penghormatan dari pihak luar. &lt;/span&gt;&lt;span arial="" serif=""  style="font-size:10;"&gt;Keinginan itulah yang kerap membuat kita terlalu menonjolkan diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam kajian Alexader Lowen, seperti ditulisnya dalam Narcissism, Denial of The True Self (1997), ada lima tipe narsisme itu, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Phallic Narcissistic character&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;: Orang dengan karakter &lt;i style=""&gt;Phallic      Narcissitic&lt;/i&gt; menginvestasikan energinya untuk merayu dan menarik      perhatian. Cirinya antara lain: &lt;i style=""&gt;pede&lt;/i&gt;,      arogan, elastik, menunjukkan kehebatan, dan seringkali sangat memukau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Narcissistic character&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Orang dengan karakter narsis, dikatakan      punya &lt;i style=""&gt;image &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hebat dan dasyat tentang dirinya.      Meminjam istilah Lowen, &lt;i style=""&gt;they are not      just better, they are the best; they are not just attractive, they are the      most attractive.&lt;/i&gt; Dalam kenyataannya, ada kasus-kasus di mana orang berkarakter      narsis ini memang sukses, top, popular dan berprestasi karena dia mampu "bermain      dengan baik" di panggung kehidupan. Tapi biar bagaimana pun juga, tetap      saja &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;image&lt;/span&gt; -nya lebih besar dari      orang-nya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;Borderline personality&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;. Orang ini tidak nyata-nyata mendemonstrasikan kesuksesan, kehebatan,      yang bisa saja didukung oleh prestasi riil; karena kekuatan ego nya lebih      lemah, malah kerapkali di dominasi rasa minder, merasa rapuh, tidak mampu,      di liputi keraguan yang besar. Perasaan hebat dan spesial nya di simpan di      dalam diri, jadi seperti memutar dan menonton film sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;Psychopathic personality&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;: &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Orang      dengan tipe ini dikatakan &lt;i style=""&gt;extreme      lack of human fellow feeling&lt;/i&gt; - atau bahasa gaulnya &lt;i style=""&gt;no heart feeling&lt;/i&gt;, karena bisa mencuri,      berbohong, menipu, merusak, bahkan membunuh dengan santai, tanpa dibebani      rasa bersalah, atau takut jika ketahuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b  style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;Paranoid personality&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;. Orang dengan tipe ini merasa dirinya begitu istimewa sampai-sampai      tidak hanya menjadi pusat perhatian, plus jadi sasaran konspirasi      orang-orang yang tidak suka padanya.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;      &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:11;"&gt;Apa Yang Menyebabkan ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;Apa ada orang yang benar-benar bersih dari kelima tipe narsisme di atas? Kalau benar-benar bersih mungkin terlalu sangat sulit ditemukan. Hampir pada diri semua orang ada narsisme-nya. Bedanya, ada yang terang-terangan dan ada yang disembunyikan. Ada yang masih wajar dan ada yang sudah tidak wajar. Ada yang masih tahu tempat dan waktu, dan ada yang sudah menyatu dengan kepribadian yang dibawa kemana-mana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;Bedanya lagi, menurut Lowen, adalah soal &lt;i&gt;degree&lt;/i&gt; atau skala penonjolan kehebatan-diri. Mungkin ada yang masih wajar dalam arti belum sampai membuat seseorang keliru dalam memandang dirinya atau belum sampai pada tingkat yang sudah bisa mengundang kebencian orang lain dan ada yang sudah kebablasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Berbicara soal sebab-sebabnya, hampir tidak ditemukan sebab yang &lt;i&gt;single &lt;/i&gt;untuk persoalan yang terkait dengan "ketidaknormalan" jiwa manusia. Karena itu, kalau melihat ke literaturnya, sebab-sebab itu selalu dikelompokkan ke dalam dua sebab induk, yaitu sebab personal (psikologis), yang berarti terkait dengan bagaimana kita mengelola jiwa kita (&lt;i&gt;internal management&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;Cerita Malin Kundang menggambarkan bagaimana seseorang merefleksikan dirinya setelah melihat realitas di luar dirinya yang baru. Misalnya saja dia berangkat dari kampung ke kota sebagai orang yang semula bukan siapa-siapa tetapi kemudian di kota dia menjadi sosok yang &lt;i&gt;who is who&lt;/i&gt;. Perubahan ini membuat dia narsis dalam arti menonjolkan kehebatan-diri secara berlebihan dan mengukur orang lain dari definisi kehebatan yang ia ciptakan berdasarkan fantasinya sendiri. Sampai-sampai ibunya sendiri tidak diterima karena tidak hebat dan tidak kren.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Selain sebab personal, ada sebab yang disebut kultural atau sebab-sebab yang muncul dari faktor eksternal. Termasuk sebab eksternal adalah pola asuh yang diterima dari kecil. Sebuah keluarga yang mendefinisikan orang secara ekstrim (keluarga, tamu, tetangga, dst) dari sisi kaya-miskin, mewah-tidak mewah, atau menutupi kekurangan dengan cara mengelabuhi, akan sangat berpotensi melahirkan pribadi yang narsis. Bahkan, mengistimewakan kedudukan anak di atas yang lain atas nama budaya dan tradisi, itu ibaratnya menabur bibit narsis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Termasuk sebab eksternal juga adalah lingkungan dimana kita berada. Tempat kerja, komunitas pergaulan atau masyarakat tertentu yang mendewakan budaya hedonisme (serba harus &lt;i style=""&gt;keren&lt;/i&gt;, mewah, dan serba materi) sangat mungkin mempengaruhi kita menjadi narsis. Jangan heran kalau misalnya kita punya teman yang gaya hidupnya berubah karena lingkungan pergaulannya berubah.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Secara hukum alamnya, sebab-sebab eksternal (keadaan dan orang lain) itu hanya sebagai pendukung atau pemicu atas munculnya kepribadian yang narsis. Artinya, lingkungan atau pola asuh tidak bisa dijadikan &lt;i&gt;single predictor&lt;/i&gt;. Ini karena, yang menjadi penyebab-penentu (&lt;i&gt;the most determinant factor&lt;/i&gt;) adalah sebab internal atau diri kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:11;"&gt;Solusi Dari Dalam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;Kalau melihat &lt;i style=""&gt;clue&lt;/i&gt;-nya, narsisme (&lt;i style=""&gt;unhealty narcissism&lt;/i&gt;) itu terkait dengan sedikitnya tiga isu kejiwaan yang sangat mendasar. &lt;b style=""&gt;Pertama&lt;/b&gt;, terkait dengan bagaimana kita meresponi suara penolakan diri atau &lt;i style=""&gt;denial of the self &lt;/i&gt;karena tidak puas terhadap diri sendiri (&lt;i style=""&gt;dissatisfaction&lt;/i&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="FI" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebenarnya, rasa tidak puas terhadap diri sendiri akan positif kalau kita gunakan untuk memperbaiki diri atau memunculkan dorongan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Inilah yang disebut "&lt;i style=""&gt;learning&lt;/i&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;growing&lt;/span&gt;, &lt;i style=""&gt;improving"&lt;/i&gt;. Jika kita sudah kehilangan dorongan untuk berubah, berarti proses &lt;i style=""&gt;learning&lt;/i&gt;-nya sudah berhenti dan ini sangat membahayakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="FI" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tapi akan negatif kalau itu kita gunakan untuk melakukan pertengkaran dengan diri sendiri (konflik diri) sampai membuat jiwa kita kosong (&lt;i&gt;feeling of empty&lt;/i&gt;), kurang &lt;i&gt;(feeling of lack&lt;/i&gt;), dan takut (&lt;i&gt;feeling of fear&lt;/i&gt;). Ini semua akan mendorong kita menempuh modus untuk mengelabuhi diri sendiri supaya bisa mengelabuhi orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan dan penghormatan dari fantasi yang kita ciptakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="FI" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;, terkait dengan bagaimana kita menutupi kekurangan, entah kurang kaya, kurang kompeten, kurang keren, kurang mewah, dan seterusnya. Adanya rasa kurang pun ciptaaan Tuhan. Rasa kurang ini bisa kita gunakan untuk menjadi orang yang &lt;i style=""&gt;tawadlu&lt;/i&gt; (rendah hati), dekat sama Tuhan atau juga bisa kita gunakan sebaliknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jika rasa kurang itu mendapatkan respon positif, pasti yang akan muncul adalah motivasi plus, misalnya dorongan untuk penyempurnaan, dorongan untuk mengakui kehebatan orang lain, dorongan untuk berubah, dan seterusnya. Tapi bila responnya negatif, akan sangat mungkin memunculkan motivasi minus, misalnya arogan tanpa alasan, membohongi orang lain untuk menutupi kekurangan, dan seterusnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;, terkait dengan sejauhmana kita melatih diri dalam mendengarkan suara naluri universal. Meski teorinya agak sulit membedakan prilaku yang narsis dan yang bukan, tetapi semua manusia punya naluri universal yang bertugas menerima kebaikan dan menolak kejelekan, entah dari perbuatan kita sendiri atau dari perbuatan orang lain. Kesombongan, penjolan diri berlebihan, atau penipuan diri itu pasti ditolak oleh naluri universal manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Artinya, sejauh kita melatih diri untuk mendengarkan naluri universal kita, pasti kita akan lebih mudah "mengobati" benih-benih penyakit narsisme di dalam diri kita. Untuk bisa mendengarkan, syaratnya adalah jangan terlalu lama atau selalu mendengarkan suara dari luar. Idealnya, kita seimbang dalam mendengarkan suara dari dalam dan suara dari luar. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:11;"&gt;Kesimpulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;Narsisme dalam konteks perilaku, merupakan manifestasi dari pengingkaran diri (&lt;i style=""&gt;denial of the self).&lt;/i&gt; Tercermin dalam sikap penonjolan diri yang bersumber dari respon negatif terhadap ketidakpuasan, kekurangan, atau kehampaan di dalam jiwa. Perasaan miskin dan kosong ini, mendorong  &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;"pencarian &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan perburuan" pengakuan, kepuasan, pujian, perhatian, dsb dengan cara yang tidak sehat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebelum ada akibat buruk pada / dari orang lain, misalnya kebencian, penolakan, atau yang lain, lebih dulu perilaku ini berakibat buruk pada diri sendiri. Tidak akurat dalam menilai diri dapat membuat kita salah mengambil keputusan untuk diri kita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akibatnya, kalau tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mandek&lt;/span&gt; ya salah jalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Hampir tidak ada jiwa manusia yang tidak ada potensi narsisme-nya. Karena itu, kita semua punya kepentingan untuk memperbaiki diri supaya lebih baik selalu. &lt;/span&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="FI" style="font-size:10;"&gt;Dan ini bisa kita mulai dari sekarang juga sesuai keadaan dan kemampuan kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Semoga bermanfaat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span arial="" serif=""  lang="SV" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-4576047397621011902?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/4576047397621011902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=4576047397621011902' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/4576047397621011902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/4576047397621011902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/12/narsiskah-anda.html' title='Narsiskah Anda?'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-8170935200026765708</id><published>2008-12-02T23:14:00.000-08:00</published><updated>2008-12-02T23:17:42.867-08:00</updated><title type='text'>Humor Dalam Bingkai Psikologi</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;lisan ini saya mendefinisikan apa itu humor. Seperti kekurangan ide aja, mendefinisikan humor sementara hampir setiap detik kita tertawa mendengar gelitik canda dalam bus kota, kereta, mobil, ketika menonton televisi, bermain &lt;i style=""&gt;game &lt;/i&gt;komputer, membaca buku, singkatnya di manapun berada kita bisa &lt;i style=""&gt;guyon&lt;/i&gt;, humor, bahkan dalam alam pikir kita sendiri. Alam pikir? Ya, buktinya ketika tak ada seorang pun yang melontarkan cerita atau celetukan lucu, tetap saja terjadi seseorang tiba-tiba tersenyum bahkan terkikik sendiri. Artinya kita bisa menciptakan kelucuan dari sekitar dengan atau tanpa orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;   &lt;span class="style4"&gt; &lt;!-- Pre-filled textarea content --&gt; &lt;div style="font-family: arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;div style="font-family: arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;div style="font-family: arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Lalu, apa itu lelucon&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;, &lt;/span&gt;apa itu lucu? Ini tidak sekedar melucu, karena tidak sedikit penelitian psikologi yang menyelidiki humor, termasuk manfaatnya dalam dunia psikologi praktis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" arial="" serif=""&gt;Persepsi tentang Humor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Humor is a social instrument that provides an effective way to reduce psychological distress, communicate a range of feelings and ideas, and enhance relationships; also, humor protects social relationships when communicating negative information.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt; (Baldwin,2007)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Humor provides a means to communicate ideas and feelings, convey criticism, and express hostility in a socially acceptable manner&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt; (Brownell &amp;amp; Gardner, 1988; Dixon, 1980; Haig, 1986; Martin, 2001 in Baldwin 2007).&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Kemampuan mentertawakan kondisi sekitar, diri sendiri, pilihan sendiri, menjadi salah satu katup yang akan melancarkan kembali kemampatan hidup. Pernah tidak anda mengalami kejadian seperti ini; anda ingin membeli sebuah pesawat televisi, sepertinya begitu sederhana, namun ternyata pilihan yang hadir sangat beragam, tidak hanya itu, anda pun harus menyesuaikan dengan lembaran yang tersedia dalam kantong. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;Anda melakukan studi produk dengan membaca informasi dari koran, internet, diskusi dengan teman, kakak, juga orangtua. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Lalu, anda mulai melakukan survey ke pusat elektronik terlengkap di kota anda, &lt;i style=""&gt;dijamin deh&lt;/i&gt; sesampai di sana anda bisa terbius oleh jajaran pesawat televisi beraneka rupa, ditambah rayuan orang-orang yang seakan tak pernah lelah mengobral keunggulan tiap produk dagangannya. Anda bisa terbius dan akhirnya menunjuk satu kotak ajaib itu, atau perputaran bintang di kepala mendorong anda untuk pulang tanpa satu kotak pilihan pun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Mungkin anda memilih yang ke dua, karena anda termasuk orang yang tidak mau membeli sesuatu dalam kondisi 'tak sadar diri'. Sehari kemudian, ketika anda sedang berjalan ke arah mesin ATM dekat kompleks rumah, tiba-tiba mata anda tertuju pada satu toko kecil di samping ATM, toko elektronika. Anda pun memasuki toko itu dan melihat beberapa televisi yang tidak menyala dengan gemerlap seperti di beberapa pusat elektronika megah yang kemarin anda kunjungi. Namun, tidak sampai lima belas menit, anda sudah mengulurkan lembaran uang sebagai transaksi diiringi senyum puas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Kisah sukses ini akan mendapat sambutan riuh sahabat anda, &lt;i style=""&gt;"Huu! jauh-jauh kutemani ke pusat elektronika, belinya di samping rumah"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Kalau ada yang tidak tertawa, atau terguling-guling sakit perut, mungkin kita perlu melihat juga reaksi apa yang terjadi dalam diri sewaktu mengkonsumsi humor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Reaksi Kognitif &amp;amp; Afektif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Apresiasi terhadap humor tidak murni merupakan kerja kognitif tetapi diperlukan juga keterlibatan proses afektif di dalamnya. Elemen kognitif di sini mengacu pada pemahaman humor dengan kemampuan mengenali atau mendeteksi disparitas antara materi humor dan pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya &lt;i style=""&gt;(humor comprehensive)&lt;/i&gt;. Pada sisi lain, elemen afeksi mengacu pada pengalaman menyenangkan (respons emosional) terhadap materi humor tersebut &lt;i style=""&gt;(humor appreciation) &lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Mendengar lelucon, pacuan denyut jantung kita meningkat, kulit tubuh pun bereaksi, disusul segera oleh reaksi afektif yang positif dan kuat (Goldstein, Harman, McGhee, &amp;amp; Karasik, 1975; Katz, 1993; McGhee, 1983 dalam Berry 2004). Inilah yang menjelaskan mengapa badan kita terguncang-guncang, muka memerah, nafas terengah dan telapak tangan memegangi perut ketika mendengar cerita lucu. Semua merupakan kerjasama rapi dan detil dari reaksi kognitif mengenali lelucon yang menjelma dalam reaksi fisik, disertai afeksi menyenangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Menertawakan Lelucon&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Apa yang membuat satu kejadian mampu memancing tawa pada sekelompok orang namun tidak sama sekali pada orang lain?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Studi menunjukkan kemampuan membedakan antara lucu dan tidak lucunya stimuli visual terkait pada sederhana atau tidaknya peristiwa termasuk konsepnya. Selain itu, humor juga bisa kita lihat menjadi dua jenis yakni humor verbal dan non-verbal. Apresiasi keduanya tentu tidak sama, humor verbal terkait dengan kemampuan abstraksi dan fleksibilitas mental, sementara humor non-verbal terkait dengan atensi visual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Lelucon yang kita dengar dalam suatu percakapan membutuhkan kemampuan membayangkan dan menghadirkan imagi visual untuk menghasilkan reaksi positif yaitu tawa atau perasaan geli. Pada humor non verbal, contohnya membaca komik atau menonton film kartun membutuhkan perhatian visual kita untuk menggelitik sensitivitas humor diri kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Masih ada hal lain, yaitu pola hubungan sosial yang ternyata berpengaruh untuk menerabas perbedaan stimuli humor verbal maupun non-verbal. Misalnya, sekelompok mahasiswa psikologi, kemungkinan besar telah akrab dengan berbagai istilah yang dengan renyah sering menjadi bahan canda, seperti 'proyeksi', atau &lt;i style=""&gt;'denial'.&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;Ketika seseorang dalam kelompok bercerita tentang mahasiswa yang dianggap begitu menyenangi dosen baru padahal di mata dia menyebalkan, kemudian ada celetukan&lt;i style=""&gt;"Proyeksi tuh, padahal wajah lu berbinar juga sekali setiap di kelas dosen ganteng &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;itu" &lt;/i&gt;disambut gelak tawa, namun dua mahasiswa Arsitek lain yang kebetulan berada di dekat mereka akan mengernyitkan dahi dan mencoba lebih keras memahami makna kata 'proyeksi'. &lt;i style=""&gt;Apakah sama dengan proyeksi seperti pada gambar perspektif yang sering mereka buat?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;Berlaku pula ketika mahasiswa psikologi terkikik melihat cipratan tinta yang secara spontan memancing humor ala test Rosarch, bukan merupakan humor bagi mahasiswa seni rupa misalnya. Maka konteks pun memegang peran di sini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;Humor&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam Konseling&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;Seperti bentuk interaksi lain dalam kehidupan manusia, sesi konseling pun salah satu bentuk interaksi. Komunikasi selalu memerlukan 'kesamaan bahasa' untuk bisa terhubung. Kita mengenal sebuah istilah &lt;i style=""&gt;ice breaking&lt;/i&gt;, sebaai salah satu titik krusial dalam menjalin rapport di garis awal sesi ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;Humor telah menjadi pilihan spontan, tidak kecuali bagi konselor dan klien sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;Konselor perlu melihat dan menentukan kondisi yang tepat ketika akan menyelipkan atau menggunakan humor dalam sesi konselingnya. Penggunaan humor ini menuntut pengukuran tingkat ketepatan dalam waktu dan sensitivitas. Humor yang tepat dan positif bukan tidak mungkin mampu menciptakan &lt;i style=""&gt;great insight &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bagi kehidupan dan dunia klien.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;Sebagai pemecah kekakuan dan ketegangan yang mungkin tercipta di awal konseling, idealnya humor mampu meredakan ketegangan dan memberi kemajuan positif dalam interaksi selanjutnya. Studi telah menunjukkan bahwa humor memang instrumen yang ampuh dalam konseling. Interpretasi tepat terhadap atmosfer atau suasana klien (konseling) serta kepribadian klien, menjadi pertimbangan penting bagi konselor untuk mengeluarkan &lt;i style=""&gt;joke-joke &lt;/i&gt;segar sebagai pendukung kesuksesan konseling.&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;Humor juga merupakan representasi komunikasi dan ekspresi klien. Klien memanfaatkan humor sebagai alat komunikasi untuk menanggapi berbagai aspek yang disajikan dalam proses konseling. Tidak jarang klien merasa grogi atau cemas ketika memasuki sesi konseling, maka humor menjadi barometer tingkat kenyamanan dan keamanan yang akan didapatkan dari interaksi dengan konselor. Kembali, humor berperan sebagai pemecah kekakuan dan ketegangan yang cukup sensitif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" arial="" serif=""&gt;Humor Memacu Kreativitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Humor dan kesehatan telah banyak diperbincangkan dan dibuktikan, karena tertawa berarti melakukan peregangan otot-otot halus tidak hanya di sekitar wajah tapi seluruh tubuh sehingga kita menjadi santai. Humor juga berkhasiat memacu kreativitas, karenanya sangat dianjurkan dalam ruang kelas maupun ruang keluarga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Pendekatan komunikasi dan interaksi antara orangtua dan anak, pengajar dan anak didik dapat mendorong kreativitas serta kemampuan berpikir, mengenalkan nilai-nilai, mengajarkan perilaku positif dan tanggung jawab pada lingkungan sekitar, menanamkan rasa percaya dan kepercayaan diri anak-anak dengan mengenalkan satu mekanisme untuk menghadapi kesedihan, kekecewaan atau perasaan duka (Lovorn,2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Mengapa? Karena mengapresiasi humor tidak sekedar terbahak, dibutuhkan sensitivitas sosial mencakup momen, siapa dan di mana kita saat itu. Mungkin kita sendiri akan langsung merasa geli menghadai satu kegagalan, tetapi kita perlu berpikir ulang ketika mendapati sahabat yang begitu terpukul pada satu kejadian, tidak serta merta humor bisa menjadi obat kekecewaan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;Maka, mengenalkan dan membiasakan humor pada anak-anak, sekaligus melatih banyak aspek seperti terungkap dalam penelitian Lovorn di atas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;JK.Rowling dalam karyanya "Harry Potter" pun menawarkan 'terapi' humor pada pembacanya dengan menciptakan mantra &lt;i style=""&gt;"Ridiculus"&lt;/i&gt; untuk melenyapkan Boggart, makhluk non penyihir yang selalu berwujud beda-beda tergantung ketakutan yang dimiliki penyihir. Seperti Ron Weasley yang takut pada laba-laba, maka boggart akan menampakkan dirinya sebagai laba-laba raksasa, mengucapkan mantra &lt;i style=""&gt;Ridiculus &lt;/i&gt;dan membayangkan laba-laba (ketakutan) menjadi /melakukan sesuatu yang menggelikan, maka hilanglah ketakutan (Boggart) itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;Menertawakan ketakutan diri sendiri, menjadi obat penawar yang ampuh, itulah yang ingin disampaikan. Semoga  bermanfaat !&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-left: 45pt; text-indent: -45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpFirst" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;Literature:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif="" lang="SV"&gt;Baldwin, Erin (2007) Humor Perception: The Contribution of Cognitive Factors. A &lt;i style=""&gt;Dissertation Submitted in Parti&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;al Fulfillment of the Requirements for the Degree of Doctor of Philosophy in the College of Arts and Sciences&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;; Georgia State University&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpFirst" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Berry, Karlene (2004) The Use of Humor in Counseling. &lt;i style=""&gt;A Research Paper Submitted in Partial Fulfillment of the Requirements for the Master of Science Degree in Guidance and Counseling:&lt;/i&gt;University of Wisconsin-Stout &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Lovorn, Michael G (2008) &lt;span style=""&gt;Humor in the Home and in the Classroom: The Benefits of Laughing While We Learn. &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Journal of Education and Human Development, Volume 2, Issue 1, 2008 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-8170935200026765708?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/8170935200026765708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=8170935200026765708' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/8170935200026765708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/8170935200026765708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/12/humor-dalam-bingkai-psikologi.html' title='Humor Dalam Bingkai Psikologi'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-4915021674404795460</id><published>2008-12-02T22:54:00.000-08:00</published><updated>2008-12-02T22:55:45.046-08:00</updated><title type='text'>10 Kebiasaan Efektif Pembicara Andal</title><content type='html'>Pembicara andal selalu menghadapi resiko pada saat ia berbicara atau&lt;br /&gt;berpresentasi walau begitu pembicara andal selalu fokus untuk tampil lebih&lt;br /&gt;baik Dibawah ini ada 10 kebiasaan efektif yang dilakukan seorang pembicara&lt;br /&gt;andal :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Selalu berusaha menemukan cara untuk menjadi pembicara andal. Selalu&lt;br /&gt;meningkatkan performa dari pengalaman yang dimiliki, selalu belajar dan&lt;br /&gt;mencari cara agar materi yang disampaikan sesuai dengan audiens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Selalu tabah untuk meraih kesuksesan. Didalam dunia public speaking&lt;br /&gt;tidak ada yang instant. Jangan ragu untuk belajar pada sekolah presenter&lt;br /&gt;ataupun rajin-rajin bertanya pada ahli dalam public speaking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.   Mencintai materi yang akan dibawakan. Audiens tidak akan mendengarkan&lt;br /&gt;anda jika anda sendiri tidak interest dengan materi yang anda bawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.   Rasakan dan sensitive terhadap keinginan audiens. Bagikan pengalaman&lt;br /&gt;yang tidak menyenangkan kepada audiens ketika anda membawa acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.   Menghindari pernyataan maupun joke yang menyinggung audiens.&lt;br /&gt;Menggunakan anekdot ataupun quotation untuk menjaga konsentrasi audiens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.   Menyiapkan materi presentasi dengan teliti. Belajar dari materi yang&lt;br /&gt;telah lampau dan menyempurnakannya berdasarkan pengalaman yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.   Membangun cerita untuk point penting dalam presentasi sehingga&lt;br /&gt;kemampuan untuk bercerita (story telling) harus selalu dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.   Berkomunikasi dengan seluruh panca indera. 80% komunikasi yang efektif&lt;br /&gt;terjalin melalui komunikasi visual dan 20% dari audio dan verbal. Jangan&lt;br /&gt;remehkan alat Bantu visual dalam presentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.   Latihan, untuk mencapai kesempurnaan. Berlatih didepan kaca dan teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Tidak lupa untuk mengapresiasikan diri sendiri. Bersyukur bahwa tidak&lt;br /&gt;semua orang diberi kesempatan dan kemampuan untuk menjadi seorang pembicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Good Luck&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-4915021674404795460?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/4915021674404795460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=4915021674404795460' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/4915021674404795460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/4915021674404795460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/12/10-kebiasaan-efektif-pembicara-andal.html' title='10 Kebiasaan Efektif Pembicara Andal'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-1732177857898835417</id><published>2008-12-02T22:19:00.000-08:00</published><updated>2008-12-02T22:24:52.295-08:00</updated><title type='text'>Bad Day</title><content type='html'>uuuuh.....uhhhhh.... lelah sekali hari ini. Entah mengapa hari ini sangat melelahkan, hampir semua kegiatan aku kerjakan sendiri. Mengajar, menerima tamu, pembayaran administrasi siswa dan yang lainnya. Kadang aku berfikir, tidak mudah mengelola sebuah sekolah, butuh perjuangan dan kerja keras.  Yah, mau bagaimana lagi memang kondisi hari ini mengharuskan aku untuk turun tangan mlakukan berbagai aktivitas, Dua TU di sekolahku berhalangan hadir. Cape sih, kadang kesal juga menghadapi hal seperti ini, walau begitu aku harus jalani, semoga apa yang aku lakukan bermanfaat dan di ridhoi oleh Allah SWT, amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-1732177857898835417?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/1732177857898835417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=1732177857898835417' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/1732177857898835417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/1732177857898835417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/12/bad-day.html' title='Bad Day'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-1120257228832307777</id><published>2008-12-01T23:03:00.001-08:00</published><updated>2008-12-01T23:03:00.755-08:00</updated><title type='text'>Yang Berlebihan Itu Berbahaya</title><content type='html'>Dulu, ketika sedang marak-maraknya tayangan smackdown, Komisi Penyiaran mendapatkan banyak protes dari masyarakat. Di sejumlah daerah, banyak anak yang mempraktekkan adegan di televisi itu pada temannya. Menurut berita, ada beberapa anak yang harus kehilangan nyawa akibat di-smackdown temannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atas reaksi yang sedemikian hebat dari masyarakat, Komisi Penyiaran akhirnya melarang total tayangan itu. Beberapa akademisi yang dilibatkan di sini beralasan bahwa secara naluri sosial, manusia itu akan cenderung meniru perilaku orang lain yang dilihatnya. Lebih-lebih jika perilaku itu mendapat "restu" (didiamkan atau dianggap wajar) oleh standar sosialnya. Dan lebih-lebih lagi jika perilaku itu negatif.  Perilaku negatif jauh lebih cepat menyebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sama soal tayangan televisi, anak-anak kecil kini mudah menjadi terlalu cepat dewasa setelah melihat berbagai tayangan. Seorang kawan sempat dikagetkan oleh ucapan anaknya yang baru berumur 5 tahunan. Ketika sang ayah mencoba mendisiplinkan si anak, tiba-tiba si anak bilang ke ibunya begini: "Bu, ceraikan saja si ayah biar aku bisa hidup bebas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diingat-ingat, ucapan serupa pernah juga dikatakan si anak kepada ayahnya saat berkonflik dengan ibunya. Oleh karena ucapan ini sudah terlalu dewasa, ditanyalah si anak apa arti cerai itu. Ternyata, si anak menjawab tidak  tahu. Lalu ditanya darimana ia tahu? Si anak menjawab "....dari sinetron!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita punya anak yang mau mendekati remaja atau sudah remaja, tantangannya bukan televisi lagi, tapi play station (PS) dan internet. Di berita investigasi sejumlah media terungkap bahwa jumlah anak-anak yang sudah kebablasan cintanya pada PS semakain meningkat. Mereka duduk berjam-jam, anggaran rutinnya sekitar Rp. 30.000 dan bahkan sampai ada yang menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warnet pun begitu. Dengan menjamurnya warnet, para pengelola berlomba menawarkan fasilitas plus supaya tidak kalah saing. Salah satunya adalah  dengan menyediakan ruangan "VIP". Di ruangan itulah polisi menemukan praktek amoral yang dilakukan remaja setelah menonton tayangan amoral Ini terjadi di beberapa tempat, seperti di Yogja, Madiun, Ponorogo, dan di beberapa lokasi di Jabodetabek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi, internat atau PS, adalah tamu tak diundang yang bisa membawa berkah atau musibah bagi anak-anak kita. Akan menjadi berkah apabila digunakan untuk kebaikannya dan dalam porsi yang masih dianjurkan. Tapi bila tidak, ini akan mendatangkan musibah. Kuncinya, segala yang berlebihan itu seringkali menimbulkan kejelekan.&lt;br /&gt;Bahaya Layar Kaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan riset sendiri dan riset yang dilakukan lembaga lain di dunia, plus pengalaman beberapa pihak, Teresa Orange dan Louise O’Flynn, penulis buku "The Media Diet for Kids" (Serambi: 2007), mencatat ada sejumlah pengaruh buruk dari layar kaca. Ini antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Perilaku&lt;br /&gt;Perilaku buruk yang kerap ditiru anak-anak dari tayangan televisi antara lain perilaku anti sosial, ledakan kemarahan yang impulsif, apatis terhadap lingkungan, murung dan menarik diri, dan terlalu cepat dewasa. Jika anak kita punya gaya marah yang tak seperti dirinya atau ucapan yang belum sewajarnya, perlu kita cek tontonan yang suka dilihatnya di televisi atau PS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Kesehatan fisik&lt;br /&gt;Pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik antara lain menyangkut kegemukan badan karena terlalu banyak duduk atau berbaring sambil nonton. Biasanya masih ditambah dengan ngemil atau minum. Jika ini terus dilakukan, bisa berpengaruh pada buruknya sistem koordinasi tubuh karena kurang gerak.&lt;br /&gt;Untuk anak, kurangnya gerakan fisik akan mempengaruhi proses belajarnya, entah belajar akademik atau belajar hidup. Gordon Dryden (1996) berkesimpulan, ada enam jalur utama menuju otak anak-anak, yaitu melalui kelima indra (pandangan, pendengaran, peraba, pengecap, dan pembau) dan gerakan fisik. "Pastikan anak-anak Anda mendapatkan latihan sebanyak yang mereka inginkan, yang mengandung sebanyak mungkin aktivitas fisik"  tulis Tony Buzan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Pendidikan&lt;br /&gt;Pengaruh buruknya terhadap pendidikan anak mencakup antara lain: kemampuan berpikir yang dangkal, perkembangan berbicara yang lambat, kemampuan membaca yang lambat, pikiran yang lambat, dan kesulitan tidur sehingga tak bisa tidur secara sehat. Anak yang kecanduan televisi akan sulit berpikir secara mendalam terhadap realitas nyata karena sudah terbawa oleh logika berpikir layar kaca yang "bim salabim" itu.&lt;br /&gt;Lebih-lebih jika mereka sudah terkena kebiasaan tak bergairah membaca karena nonton itu lebih asyik. Kita perlu ingat bahwa membaca itu bukan sekedar akan menambah ilmu, melainkan juga akan mengaktifkan pikiran dan akan memperdalam kapasitas berpikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Hubungan dengan sesama&lt;br /&gt;Anak yang sudah kecanduan televisi juga akan memiliki pola interaksi atau hubungan yang kurang berkualitas atau kurang optimal, entah dengan keluarga atau sesama anak. Jika sampai si anak menggunakan sebagian besar waktunya untuk bertapa di kamar atau di ruangan televisi, mungkin saja mereka akan jarang berkomunikasi secara verbal dengan anggota keluarga. Padahal, dengan berkomunikasi itu anak akan belajar membangun hubungan, dari mulai berbagi kebaikan, dialog, sampai berkonflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Pandangan dunia.&lt;br /&gt;Kecanduan televisi bisa mempengaruhi pandangan anak terhadap dunia di sekitarnya. Anak akan punya persepsi  dunia di luar sana terlalu menyeramkan karena banyak tayangan kejahatan yang penyajiannya di-blow-up habis-habisan oleh televisi. Bahkan terkadang ditunjukkan teknik bagaimana si penjahat itu melakukan kejahatan dan kekejaman untuk menambah sensasi tayangan. &lt;br /&gt;Selain itu, ada budaya yang disebut "Saya ingin". Anak akan mengajukan daftar belanja, saya ingin beli ini, beli itu, dan seterusnya karena ingin memiliki semata, bukan untuk digunakan. Biasanya seputar mainan, makanan, atau pakaian. Dengan kemasan iklan  yang sangat bagus di televisi, anak-anak mudah terpengaruh untuk memiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih berbahaya lagi ketika si anak memilih idola atau gaya hidup yang tidak sesuai. Dengan menjamurnya idola baru yang diciptakan televisi secara instan, termasuk dari kalangan anak-anak, akan membuat si anak merasa tidak bahagia menjadi dirinya atau dengan prestasinya yang tidak terkait dengan kehidupan para idola. Ini akan terjadi apabila orang dewasa di sekitarnya ikut-ikutan kecanduan idola secara berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus lain menunjukkan banyak remaja yang gampang depresi karena orangtua tidak mampu memenuhi biaya yang dibutuhkan untuk menutup gaya hidup yang ingin ditiru anak dari tayangan televisi. Misalnya, anak merasa kehilangan self esteem atau self confidence kalau hidupnya tidak mewah seperti yang dilihat di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu Pembatasan, Pembekalan, dan Pengarahan&lt;br /&gt;Dengan sejumlah bahaya itu, apa berarti kita perlu melarang anak menonton televisi? Tentu tidak. Televisi tetap memberikan kontribusi positif asal ditonton dengan porsi yang pas. Supaya porsinya pas, perlu ada pembatasan. Berapa batasan yang pas? Hampir tidak ditemukan angka ideal untuk semua anak. Tapi secara umum, angka yang bisa dipakai patokan adalah 2 jam-an. Boleh lebih tapi jangan sampai berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu batasan waktu saja tidak cukup. Walaupun nontonya kurang dari dua jam, tapi kalau tayangan yang dilihatnya tak sesuai, tetap punya pengaruh buruk. Karena itu perlu pembekalan dari orangtua. Kenapa pembekalan ini penting? Alasannya, dalam tayangan itu pasti ada perilaku yang patut ditiru, patut dijauhi, dan patut hanya untuk dinikmati saja. Anak terkadang kurang bisa membedakan tiga elemen ini. Tugas kitalah untuk memahamkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu perlu pengarahan. Pengarahan ini sebetulnya lanjutan dari pembekalan. Anak tidak cukup kita bekali dengan nasehat. Supaya informasi yang didapat itu membuahkan pengaruh positif dalam hidupnya, perlu diarahkan, didukung, dan pendampingan. Misalnya saja ada tayangan cerdas cermat, kontes bahasa Inggris, atau perilaku positif tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika si anak suka melihatnya, ini bisa kita pakai sebagai pintu masuk untuk memotivasi dan memfasilitasi mereka supaya lebih giat belajar, lebih giat berolahraga, lebih giat berbuat baik atau lebih kuat menghindari prilaku negatif. Bisa juga mengarahkan anak untuk menjadikan orang-orang yang dilihatnya di layar sebagai role model, misalnya anak meniru gaya presenter tertentu atau tokoh tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciptakan Kondisi &amp; Fasilitasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ukuran zaman sekarang ini, mungkin banyak orang yang berkesimpulan tidak bisa menghindarkan anak dari televisi, PS, atau internet. Dan lagi, belum tentu hasilnya lebih bagus. Kalau anak kita sampai menjadi orang yang out-of-date gara-gara tidak mengikuti zaman, bisa-bisa malah minder. Lalu apa solusi jalan tengahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain perlu ada pembatasan, pembekalan dan pengarahan itu, masih ada lagi beberapa solusi yang bisa kita lakukan sebagai upaya untuk mengurangi porsi yang sudah berlebihan. Ini antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Menghindarkan anak dari tingkat kenyamanan yang terlalu berlebihan dalam menikmati televisi atau PS. Semakin canggih atau semakin besar televisi atau PS, biasanya malah membuat anak semakin nikmat&lt;br /&gt;* Mengurangi berbagai tuntutan privasi yang tidak pada tempatnya, misalnya menaruh internet di kamar pribadi, lebih-lebih di kamar atas, punya kotak rahasia untuk menyimpan CD yang tidak boleh dibuka orangtua, dan lain-lain.&lt;br /&gt;* Menyediakan fasilitas bermain yang menstimulasi anak untuk menggerakkan fisiknya, misalnya sepeda atau peralatan olahraga. Bisa juga dengan menyediakan tayangan khusus, misalnya membelikan CD khusus yang sudah kita lihat isinya. Banyak orangtua yang sudah melakukan ini dan hasilnya Ok&lt;br /&gt;* Mau terlibat dan berbagi informasi positif dengan anak saat melihat tayangan atau searching / browsing internet. Mungkin saja mereka kurang informasi atau pengetahuan seputar situs yang bermanfaat&lt;br /&gt;* Sering-sering mengobrolkan isu yang menarik minat anak untuk terlibat, dari mulai yang ringan sampai ke yang berat, sesuai nalar anak. Mengobrolkan isu, selain bisa mengurangi ketergantungan anak terhadap layar kaca, bisa juga menciptakan kedekatan emosi dan melatih anak dalam bernalar.&lt;br /&gt;* Menyediakan bahan bacaan yang menggugah minat anak. Kalau anak malas atau belum punya tradisi membaca, kita bisa mendorongnya dengan membaca bersama-sama atau bergantian atau membaca sendiri-sendiri lalu saling bercerita. Ini akan terasa lebih fun dan OK&lt;br /&gt;* Menyalurkan bakat, hobi, atau menyediakan fasilitas untuk berkreasi, entah di dalam rumah atau di luar rumah. Ini akan mengurangi kebergantungan anak terhadap layar kaca. Dan yang lebih penting lagi, ini akan memberikan pengalaman positif.&lt;br /&gt;* Sering-sering mengajak anak berpartisipasi dalam kegiatan fisik yang positif dan fun, misalnya membersihkan barang elektronik di rumah, membersihka pekarangan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;* Dan yang lebih penting lagi adalah menunjukkan keteladanan dari orang dewasa di rumah. Sulit kita menyuruh anak membaca buku sementara sementara semua orang dewasa di rumah sedang asyik di depan layar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrol Internal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak temuan akan semakin banyak kepentingan. Televisi, PS, situs internet, masing-masing punya kepentingan yang sah. Kita pun begitu. Karena itu, tak bisa kita selamanya menyalahkan televisi atau penjual PS. Justru yang dibutuhkan adalah memperkuat kontrol internal agar anak mampu menggunakan kapasitasnya dalam memilih untuk memilih yang baik. Semoga bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-1120257228832307777?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/1120257228832307777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=1120257228832307777' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/1120257228832307777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/1120257228832307777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/12/yang-berlebihan-itu-berbahaya_01.html' title='Yang Berlebihan Itu Berbahaya'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-7277830932159343130</id><published>2008-12-01T00:02:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T08:12:04.867-08:00</updated><title type='text'>Terbentuknya Persahabatan</title><content type='html'>Kita semua tentu punya alasan sendiri kenapa memilih untuk membangun persahabatan. Pada umumnya, hubungan itu timbul karena perasaan yang merasa ada keterikatan (attachment): senasib sepenanggungan, sevisi, seminat, dan seterusnya dan seterusnya. Atau ada juga yang karena kesaling-bergantungan (interdependence): membutuhkan bantuan, dukungan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam prakteknya, persahabatan itu kita bedakan dengan pertemanan. Perbedaan yang paling menonjol terletak pada intensitas keterlibatan emosi dan komitmen. Karena itu, terkadang tidak cukup kita mengatakan  "friend" untuk menyebut seorang sahabat, tetapi masih kita tambah dengan kata sifat "close friend". Kalau mengacu ke teori hubungan antar pribadi menurut Verderber &amp; Verderber (Hanna Djumhana Bastaman, M.Psi, 1996) persahabatan itu mungkin istilahnya adalah Deep Friendship. Berdasarkan skala intimasi dan komitmen yang muncul, hubungan antar pribadi itu dikelompokkan menjadi seperti berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Aquintance Relationship (perkenalan biasa)&lt;br /&gt;   2. Friendship Relationship (pertemanan karena kesamaan minat,sifat dan kepentingan&lt;br /&gt;   3. Role Relationship (hubungan berdasarkan peranan atau kepentingan)&lt;br /&gt;   4. Deep Friendship or Intimate Relationships (Hubungan yang sudah melibatkan emosi&lt;br /&gt;      dan komitmen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bukti-bukti di lapangan ditemukan bahwa persahabatan yang bagus itu punya banyak manfaat. Salah satunya adalah bisa mencegah hipertensi (Reardom, Interpersonal Communication: Where Minds Meet, 1987). Secara kesehatan dijelaskan bahwa hipertensi adalah tekanan darah atau denyut jantung yang lebih tinggi dari yang normal karena ada penyempitan pembuluh darah atau karena sebab lain. Bisa juga berguna untuk menurunkan dan mengurangi potensi stress atau depresi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja Anda saat ini sedang belajar di lembaga pendidikan yang menerapkan disiplin tegas. Namanya disiplin, pasti maksudnya baik. Cuma, dalam eksekusi di lapangannya, pasti juga ada kemungkinan munculnya penyimpangan prosedur oleh individu yang tak jarang menimbulkan tekanan, ketegangan, atau himpitan. Dengan memiliki cantolan klub, forum, atau kelompok yang tingkat persahabatannya bagus, itu akan bisa membuat kita lebih sabar dan terhibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat temuan Maslow, ternyata salah satu karakteristik self-actualized person itu adalah punya sahabat atau kenalan yang jumlahnya sedikit namun berbobot intimasi dan kualitasnya (Human Development, Vander Zender, 1989). Ini mungkin bisa kita tafsirkan bahwa mereka itu punya sahabat atau orang dekat. Tafsiran ini memang seringkali sinkron dengan realitas yang kerap kita temui di lapangan. Banyak 'kan kita mengenal sejumlah tokoh atau orang-orang tertentu yang berprestasi di bidangnya (di semua level) yang ternyata dulu mereka bersahabat dengan orang-orang tertentu dan persahabatan itu berlangsung sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, kata orang, Tuhan itu kalau mengangkat derajat seseorang jarang secara individu. Tuhan itu mengangkat derajat seseorang sekaligus dengan kelompoknya. Ini tentu refleksi personal yang subyektif. Tapi memang secara rasional, ungkapan itu ada rujukannya. Karena mereka yang bersahabat itu membangun kedekatan lahir dan batin, sudah barang tentu mereka punya mindset yang sama, kultur hidup yang sama, atau karakter yang sama.  Logikanya, ketika orang sudah dibentuk oleh prinsip-prinsip yang sama, maka sangat mungkin mereka mendapatkan nasib yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Isi pikiranmu membentuk tindakanmu, tindakanmu membentuk kebiasaanmu, kebiasaanmu membentuk karaktermu, karaktermu membentuk nasibmu."&lt;br /&gt;(Aristotle)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, yang menyebabkan mereka punya kesamaan nasib, bukan kesamaan kelompoknya, melainkan kesamaan isi pikiran, tindaan, kebiasaan, dan karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan Kendor &amp; Kapan Pecah&lt;br /&gt;Dalam prakteknya, persahabatan itu bisa kendor dan bisa pula pecah. Secara umum, kendornya intimasi persahabatan itu mulai muncul ketika masing-masing atau salah seorangnya sudah punya kepentingan dan kebutuhan yang ditandai dengan berubahnya status. Misalnya saja dari mahasiswa ke pekerja atau dari bujangan ke ber-rumahtangga, dari orang biasa ke orang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menurut ucapannya Sigmund Freud, orang dewasa itu isi pikirannya yang paling dominan hanya dua: to love and to work. Mereka berkonsentrasi pada keluarga (to love) dan kerjaannya (to work). Kohesi persahabatan yang terjadi pada kehidupan orang dewasa biasanya adalah lanjutan dari persahabatan sebelumnya atau karena kepentingan dan kondisi yang dirasakan sangat spesifik (benar-benar senasib).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kerap terjadi pada tenaga kerja atau pelajar di luar negeri. Karena sama-sama senasib, sama-sama dari Indonesia, sama-sama punya kepentingan yang sama, dan merasakan keadaan yang relatif sama, maka persahabatan terbentuk. Tapi, menurut kebiasaan, persahabatan yang terbentuk ketika usia seseorang sudah banyak kepentingan, memang rasanya beda dengan ketika seseorang masih di usia remaja atau dewasa muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lalu kapan persahabatan akan terancam bubar? Masalah yang melatarbelakangi bubarnya persahabatan itu pasti bermacam-macam. Menurut Duck (1985), biasanya fase-fase bubarnya hubungan (disolusi) itu diawali dari proses di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ketidakpuasan dari hubungan itu. Misalnya saja kita menerima perlakuan yang tidak fair, atau persahabatan yang ada tidak membuahkan hasil-hasil tertentu seperti yang semula dibayangkan. Misalnya saja persahabatan karena narkoba.&lt;br /&gt;2. Upaya menarik diri. Kita sudah merasa tidak cocok lagi atau ada keinginan untuk menentang atau juga kita menarik diri. Bisa juga setelah kita menghitung untung-rugi, manfaat-keuntungan.&lt;br /&gt;3. Mempraktekkan keputusan unuk menghindar atau menjauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga disolusi itu terjadi sesuai dengan urutan yang ditemukan Hawk Williams (The essence of managing group &amp; teams, 1996) berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Ada problem yang kita jumpai (menurut versi kita) pada dia&lt;br /&gt;   2. Kita membiarkan / tidak menunjukkan problem itu kepada orang yang kita anggap punya masalah dengan kita &lt;br /&gt;   3. Problem itu tetap muncul atau terus bertambah&lt;br /&gt;   4. Perasaan negatif terus menggunung / mengakumulasi&lt;br /&gt;   5. Kita kehilangan perspektif tentang orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam organisasi kepemudaan yang rata-rata kita lihat mereka bersahabat, urutan di atas kerap terjadi. Si A dipandang telah sering melakukan tindakan yang melanggar prinsip dasar organisasi. Karena bersahabat, mereka tidak langsung menegur atau mengingatkan secara terang-terangan. Si A sendiri tidak sensitif menangkap gelagat ketidaksetujuan para sahabatnya. Proses ini terus berlanjut dan masing-masing pihak menyimpan bara api ketidaksetujuan dan ketidakpedulian di dadanya. Hingga pada puncaknya, Si A dipecat dari organisasi itu. Jika Si A tidak terima, terjadilah upaya saling menjatuhkan dimana masing-masing orang kehilangan perspektif persahabatannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hindarilah bersahabat dengan orang yang membohongimu,&lt;br /&gt;hindarilah bersahabat dengan orang yang memanfaatkanmu,&lt;br /&gt;dan hindarilah bersahabat dengan orang menjerumuskanmu"&lt;br /&gt;(Ali bin Abu Thalib)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Cara Mempertahankan Persahabatan&lt;br /&gt;Untuk persahabatan yang tengah kendor intimasinya karena ada perbedaan dan perubahan, hal-hal yang bisa kita lakukan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, menjaga ritme dan frekuensi hubungan. Jangan terlalu sering atau jangan sama sekali putus hubungan. Aturlah ritme dan frekuensinya. Kenapa? Jika Anda terlalu sering, padahal status dan peranan sahabat Anda itu sudah tidak seperti dulu lagi, akan lain tafsirannya. Tapi jika hubungan itu terputus sama sekali, ini juga tidak tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kebetulan nasib kita ternyata lebih di atas,  akan lebih bagus kalau kita yang berinisiatif memulai memelihara persahabatan itu. Kalau memungkinkan dan itu dibutuhkan, yang perlu kita lakukan bukan semata 'say hello' atau sekedar bernostalgia, melainkan juga perlu merambah ke gagasan-gagasan pemberdayaan, entah untuk sahabat kita yang lain atau untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, hormati privasinya. Dengan peranan dan status yang sudah tidak seperti dulu lagi, tentu sahabat kita ini memiliki aturan hidup yang baru, entah itu terkait dengan keluarganya atau pekerjaannya. Agar persahabatan tetap terjaga, yang perlu kita lakukan adalah menghormati privasinya. Bahkan juga tidak saja perlu menghormati dia semata, tetapi juga orang-orang penting di sekitarnya, misalnya saja suami-istri, atasan-bawahan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita berada di posisi yang sebaliknya (orang yang dicari), yang perlu kita hindari adalah curiga duluan kalau sahabat kita ini pasti membawa masalah atau mau minta bantuan, hanya memberi nasehat dengan cara merendahkan, hanya memamerkan kekayaan (unjuk-diri), atau memperlakukannya terlalu formal dan menunjukkan kesan terlalu menjaga wibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, hindari meminta bantuan dengan nada dan gaya menuntut (demanding) kecuali memang ada suasana psikologis yang mendukung dan itu tidak melibatkan orang lain selain sahabat Anda. Lebih-lebih, karena tuntutan kita tak terpenuhi, kita kemudian menyebarkan gosip tak sedap, misalnya sahabat kita ini sekarang orangnya sudah lain, makin sombong, angkuh, tak peduli, dan lain-lain. Akan lebih sip kalau kita menempuh cara-cara profesional yang tetap mengedepankan etika dan strategi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita berada di posisi sebaliknya, hindari mengeluarkan pernyataan semacam tidak bisa, itu sulit, atau itu tidak mungkin dan semisalnya dengan nada untuk menutup berbagai kemungkinan. Kalau kita tidak bisa membantu langsung, kita bisa membantu secara tidak langsung. Kalau kita tidak bisa membantu keinginannya, kita bisa membantu kebutuhannya. Intinya, munculkan semangat untuk membantu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua bisa kita lakukan ketika persahabatan kita dulu adalah persahabatan dalam hal-hal yang positif. Untuk persahabatan yang negatif, tinggalkanlah dengan cara yang baik. Misalnya dulu kita punya geng yang suka narkoba. Karena kita sudah tobat,  kita perlu memutus hubungan dengan sahabat-sahabat yang masih terlibat. Tujuannya adalah agar kita tidak terlibat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun untuk kita yang masih dalam tahap sedang asyik-asyiknya menjalani hidup dengan persahabatan, beberapa hal yang perlu kita ingat adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Nikmatilah persahabatan yang ada tetapi jangan sampai menghilangkan diri Anda. Jadikan persahabatan saat ini sebagai lahan untuk aktualisasi-diri dengan bertukar pengalaman, pengetahuan, informasi, berbagi perasaan, dan lain-lain.  Termasuk juga jangan sampai persahabatan ini merenggangkan hubungan dengan orang-orang inti: orangtua dan keluarga. Anda tetap bisa bersahabat tanpa harus memunculkan ketegangan dengan orangtua atau keluarga&lt;br /&gt;   2. Inisiatifkan untuk memunculkan gagasan-gagasan positif, entah itu yang berkaitan dengan akademik atau non-akademik. Sebagai acuan, buatlah learning group (kajian akademik, dst), problem solving group (bantuan sosial, dst), atau growth group (pengasahan bakat, dst). Ini sangat bermanfaat bagi kemajuan Anda di masa mendatang.&lt;br /&gt;   3. Jagalah jangan sampai punya kepentingan yang bertabrakan dengan kepentingan sahabat. Bila itu terjadi, buatlah kesepakatan sefair mungkin dengan melibatkan sahabat lain.&lt;br /&gt;   4. Hormatilah dan jangan "memanfaatkan". Misalnya kita bersahabat dengan si anu karena orangtuanya kaya, terpandang, atau ada agenda politis yang kita sembunyikan untuk memanfaatkan sahabat kita. Bersahabatlah karena kecocokan jiwa. &lt;br /&gt;   5. Mendukung dan membantu. Banyak orang yang bisa membantu sahabatnya ketika sedang kesusahan tetapi tidak bisa mendukung sahabatnya yang sedang meraih kemajuan. Lawanlah iri dengki di dada dengan cara mendukung dan membantu.  &lt;br /&gt;   6. Kembangkan perspektif yang fair. Biarpun itu sahabatmu, jangan sampai kehilangan perspektif yang fair. Sebab, pasti ada yang positif dan pasti ada yang negatif. Temukan positifnya sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;   7. Biasakan saling memberi nasehat dengan cara yang bersahabat, bukan dengan cara menilai, mengoreksi, lebih-lebih membicarakannya di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sahabatmu adalah orang yang sudah tahu banyak tentang dirimu  &lt;br /&gt;dan tetap bersahabat denganmu"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-7277830932159343130?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/7277830932159343130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=7277830932159343130' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/7277830932159343130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/7277830932159343130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/12/terbentuknya-persahabatan.html' title='Terbentuknya Persahabatan'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-2079932530737679369</id><published>2008-12-01T00:01:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T08:07:56.715-08:00</updated><title type='text'>Yang Berlebihan Itu Berbahaya</title><content type='html'>Dulu, ketika sedang marak-maraknya tayangan smackdown, Komisi Penyiaran mendapatkan banyak protes dari masyarakat. Di sejumlah daerah, banyak anak yang mempraktekkan adegan di televisi itu pada temannya. Menurut berita, ada beberapa anak yang harus kehilangan nyawa akibat di-smackdown temannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atas reaksi yang sedemikian hebat dari masyarakat, Komisi Penyiaran akhirnya melarang total tayangan itu. Beberapa akademisi yang dilibatkan di sini beralasan bahwa secara naluri sosial, manusia itu akan cenderung meniru perilaku orang lain yang dilihatnya. Lebih-lebih jika perilaku itu mendapat "restu" (didiamkan atau dianggap wajar) oleh standar sosialnya. Dan lebih-lebih lagi jika perilaku itu negatif.  Perilaku negatif jauh lebih cepat menyebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sama soal tayangan televisi, anak-anak kecil kini mudah menjadi terlalu cepat dewasa setelah melihat berbagai tayangan. Seorang kawan sempat dikagetkan oleh ucapan anaknya yang baru berumur 5 tahunan. Ketika sang ayah mencoba mendisiplinkan si anak, tiba-tiba si anak bilang ke ibunya begini: "Bu, ceraikan saja si ayah biar aku bisa hidup bebas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diingat-ingat, ucapan serupa pernah juga dikatakan si anak kepada ayahnya saat berkonflik dengan ibunya. Oleh karena ucapan ini sudah terlalu dewasa, ditanyalah si anak apa arti cerai itu. Ternyata, si anak menjawab tidak  tahu. Lalu ditanya darimana ia tahu? Si anak menjawab "....dari sinetron!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita punya anak yang mau mendekati remaja atau sudah remaja, tantangannya bukan televisi lagi, tapi play station (PS) dan internet. Di berita investigasi sejumlah media terungkap bahwa jumlah anak-anak yang sudah kebablasan cintanya pada PS semakain meningkat. Mereka duduk berjam-jam, anggaran rutinnya sekitar Rp. 30.000 dan bahkan sampai ada yang menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warnet pun begitu. Dengan menjamurnya warnet, para pengelola berlomba menawarkan fasilitas plus supaya tidak kalah saing. Salah satunya adalah  dengan menyediakan ruangan "VIP". Di ruangan itulah polisi menemukan praktek amoral yang dilakukan remaja setelah menonton tayangan amoral Ini terjadi di beberapa tempat, seperti di Yogja, Madiun, Ponorogo, dan di beberapa lokasi di Jabodetabek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi, internat atau PS, adalah tamu tak diundang yang bisa membawa berkah atau musibah bagi anak-anak kita. Akan menjadi berkah apabila digunakan untuk kebaikannya dan dalam porsi yang masih dianjurkan. Tapi bila tidak, ini akan mendatangkan musibah. Kuncinya, segala yang berlebihan itu seringkali menimbulkan kejelekan.&lt;br /&gt;Bahaya Layar Kaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan riset sendiri dan riset yang dilakukan lembaga lain di dunia, plus pengalaman beberapa pihak, Teresa Orange dan Louise O’Flynn, penulis buku "The Media Diet for Kids" (Serambi: 2007), mencatat ada sejumlah pengaruh buruk dari layar kaca. Ini antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Perilaku&lt;br /&gt;Perilaku buruk yang kerap ditiru anak-anak dari tayangan televisi antara lain perilaku anti sosial, ledakan kemarahan yang impulsif, apatis terhadap lingkungan, murung dan menarik diri, dan terlalu cepat dewasa. Jika anak kita punya gaya marah yang tak seperti dirinya atau ucapan yang belum sewajarnya, perlu kita cek tontonan yang suka dilihatnya di televisi atau PS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Kesehatan fisik&lt;br /&gt;Pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik antara lain menyangkut kegemukan badan karena terlalu banyak duduk atau berbaring sambil nonton. Biasanya masih ditambah dengan ngemil atau minum. Jika ini terus dilakukan, bisa berpengaruh pada buruknya sistem koordinasi tubuh karena kurang gerak.&lt;br /&gt;Untuk anak, kurangnya gerakan fisik akan mempengaruhi proses belajarnya, entah belajar akademik atau belajar hidup. Gordon Dryden (1996) berkesimpulan, ada enam jalur utama menuju otak anak-anak, yaitu melalui kelima indra (pandangan, pendengaran, peraba, pengecap, dan pembau) dan gerakan fisik. "Pastikan anak-anak Anda mendapatkan latihan sebanyak yang mereka inginkan, yang mengandung sebanyak mungkin aktivitas fisik"  tulis Tony Buzan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Pendidikan&lt;br /&gt;Pengaruh buruknya terhadap pendidikan anak mencakup antara lain: kemampuan berpikir yang dangkal, perkembangan berbicara yang lambat, kemampuan membaca yang lambat, pikiran yang lambat, dan kesulitan tidur sehingga tak bisa tidur secara sehat. Anak yang kecanduan televisi akan sulit berpikir secara mendalam terhadap realitas nyata karena sudah terbawa oleh logika berpikir layar kaca yang "bim salabim" itu.&lt;br /&gt;Lebih-lebih jika mereka sudah terkena kebiasaan tak bergairah membaca karena nonton itu lebih asyik. Kita perlu ingat bahwa membaca itu bukan sekedar akan menambah ilmu, melainkan juga akan mengaktifkan pikiran dan akan memperdalam kapasitas berpikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Hubungan dengan sesama&lt;br /&gt;Anak yang sudah kecanduan televisi juga akan memiliki pola interaksi atau hubungan yang kurang berkualitas atau kurang optimal, entah dengan keluarga atau sesama anak. Jika sampai si anak menggunakan sebagian besar waktunya untuk bertapa di kamar atau di ruangan televisi, mungkin saja mereka akan jarang berkomunikasi secara verbal dengan anggota keluarga. Padahal, dengan berkomunikasi itu anak akan belajar membangun hubungan, dari mulai berbagi kebaikan, dialog, sampai berkonflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Pandangan dunia.&lt;br /&gt;Kecanduan televisi bisa mempengaruhi pandangan anak terhadap dunia di sekitarnya. Anak akan punya persepsi  dunia di luar sana terlalu menyeramkan karena banyak tayangan kejahatan yang penyajiannya di-blow-up habis-habisan oleh televisi. Bahkan terkadang ditunjukkan teknik bagaimana si penjahat itu melakukan kejahatan dan kekejaman untuk menambah sensasi tayangan. &lt;br /&gt;Selain itu, ada budaya yang disebut "Saya ingin". Anak akan mengajukan daftar belanja, saya ingin beli ini, beli itu, dan seterusnya karena ingin memiliki semata, bukan untuk digunakan. Biasanya seputar mainan, makanan, atau pakaian. Dengan kemasan iklan  yang sangat bagus di televisi, anak-anak mudah terpengaruh untuk memiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih berbahaya lagi ketika si anak memilih idola atau gaya hidup yang tidak sesuai. Dengan menjamurnya idola baru yang diciptakan televisi secara instan, termasuk dari kalangan anak-anak, akan membuat si anak merasa tidak bahagia menjadi dirinya atau dengan prestasinya yang tidak terkait dengan kehidupan para idola. Ini akan terjadi apabila orang dewasa di sekitarnya ikut-ikutan kecanduan idola secara berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus lain menunjukkan banyak remaja yang gampang depresi karena orangtua tidak mampu memenuhi biaya yang dibutuhkan untuk menutup gaya hidup yang ingin ditiru anak dari tayangan televisi. Misalnya, anak merasa kehilangan self esteem atau self confidence kalau hidupnya tidak mewah seperti yang dilihat di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu Pembatasan, Pembekalan, dan Pengarahan&lt;br /&gt;Dengan sejumlah bahaya itu, apa berarti kita perlu melarang anak menonton televisi? Tentu tidak. Televisi tetap memberikan kontribusi positif asal ditonton dengan porsi yang pas. Supaya porsinya pas, perlu ada pembatasan. Berapa batasan yang pas? Hampir tidak ditemukan angka ideal untuk semua anak. Tapi secara umum, angka yang bisa dipakai patokan adalah 2 jam-an. Boleh lebih tapi jangan sampai berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu batasan waktu saja tidak cukup. Walaupun nontonya kurang dari dua jam, tapi kalau tayangan yang dilihatnya tak sesuai, tetap punya pengaruh buruk. Karena itu perlu pembekalan dari orangtua. Kenapa pembekalan ini penting? Alasannya, dalam tayangan itu pasti ada perilaku yang patut ditiru, patut dijauhi, dan patut hanya untuk dinikmati saja. Anak terkadang kurang bisa membedakan tiga elemen ini. Tugas kitalah untuk memahamkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu perlu pengarahan. Pengarahan ini sebetulnya lanjutan dari pembekalan. Anak tidak cukup kita bekali dengan nasehat. Supaya informasi yang didapat itu membuahkan pengaruh positif dalam hidupnya, perlu diarahkan, didukung, dan pendampingan. Misalnya saja ada tayangan cerdas cermat, kontes bahasa Inggris, atau perilaku positif tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika si anak suka melihatnya, ini bisa kita pakai sebagai pintu masuk untuk memotivasi dan memfasilitasi mereka supaya lebih giat belajar, lebih giat berolahraga, lebih giat berbuat baik atau lebih kuat menghindari prilaku negatif. Bisa juga mengarahkan anak untuk menjadikan orang-orang yang dilihatnya di layar sebagai role model, misalnya anak meniru gaya presenter tertentu atau tokoh tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciptakan Kondisi &amp; Fasilitasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ukuran zaman sekarang ini, mungkin banyak orang yang berkesimpulan tidak bisa menghindarkan anak dari televisi, PS, atau internet. Dan lagi, belum tentu hasilnya lebih bagus. Kalau anak kita sampai menjadi orang yang out-of-date gara-gara tidak mengikuti zaman, bisa-bisa malah minder. Lalu apa solusi jalan tengahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain perlu ada pembatasan, pembekalan dan pengarahan itu, masih ada lagi beberapa solusi yang bisa kita lakukan sebagai upaya untuk mengurangi porsi yang sudah berlebihan. Ini antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Menghindarkan anak dari tingkat kenyamanan yang terlalu berlebihan dalam menikmati televisi atau PS. Semakin canggih atau semakin besar televisi atau PS, biasanya malah membuat anak semakin nikmat&lt;br /&gt;* Mengurangi berbagai tuntutan privasi yang tidak pada tempatnya, misalnya menaruh internet di kamar pribadi, lebih-lebih di kamar atas, punya kotak rahasia untuk menyimpan CD yang tidak boleh dibuka orangtua, dan lain-lain.&lt;br /&gt;* Menyediakan fasilitas bermain yang menstimulasi anak untuk menggerakkan fisiknya, misalnya sepeda atau peralatan olahraga. Bisa juga dengan menyediakan tayangan khusus, misalnya membelikan CD khusus yang sudah kita lihat isinya. Banyak orangtua yang sudah melakukan ini dan hasilnya Ok&lt;br /&gt;* Mau terlibat dan berbagi informasi positif dengan anak saat melihat tayangan atau searching / browsing internet. Mungkin saja mereka kurang informasi atau pengetahuan seputar situs yang bermanfaat&lt;br /&gt;* Sering-sering mengobrolkan isu yang menarik minat anak untuk terlibat, dari mulai yang ringan sampai ke yang berat, sesuai nalar anak. Mengobrolkan isu, selain bisa mengurangi ketergantungan anak terhadap layar kaca, bisa juga menciptakan kedekatan emosi dan melatih anak dalam bernalar.&lt;br /&gt;* Menyediakan bahan bacaan yang menggugah minat anak. Kalau anak malas atau belum punya tradisi membaca, kita bisa mendorongnya dengan membaca bersama-sama atau bergantian atau membaca sendiri-sendiri lalu saling bercerita. Ini akan terasa lebih fun dan OK&lt;br /&gt;* Menyalurkan bakat, hobi, atau menyediakan fasilitas untuk berkreasi, entah di dalam rumah atau di luar rumah. Ini akan mengurangi kebergantungan anak terhadap layar kaca. Dan yang lebih penting lagi, ini akan memberikan pengalaman positif.&lt;br /&gt;* Sering-sering mengajak anak berpartisipasi dalam kegiatan fisik yang positif dan fun, misalnya membersihkan barang elektronik di rumah, membersihka pekarangan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;* Dan yang lebih penting lagi adalah menunjukkan keteladanan dari orang dewasa di rumah. Sulit kita menyuruh anak membaca buku sementara sementara semua orang dewasa di rumah sedang asyik di depan layar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrol Internal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak temuan akan semakin banyak kepentingan. Televisi, PS, situs internet, masing-masing punya kepentingan yang sah. Kita pun begitu. Karena itu, tak bisa kita selamanya menyalahkan televisi atau penjual PS. Justru yang dibutuhkan adalah memperkuat kontrol internal agar anak mampu menggunakan kapasitasnya dalam memilih untuk memilih yang baik. Semoga bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-2079932530737679369?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/2079932530737679369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=2079932530737679369' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/2079932530737679369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/2079932530737679369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/12/yang-berlebihan-itu-berbahaya.html' title='Yang Berlebihan Itu Berbahaya'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-2510097301082473305</id><published>2008-11-30T19:25:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T19:26:49.833-08:00</updated><title type='text'>Anak-Anak Karbitan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Tahoma;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dari  milis tetangga....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     &lt;!--~-|**|PrettyHtmlStartT|**|-~--&gt; &lt;!--~-|**|PrettyHtmlEndT|**|-~--&gt;                    &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;ANAK-ANAK KARBITAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="ygrp-mlmsg" style="width: 655px;"&gt;&lt;div id="ygrp-msg" style="margin: 0pt; padding: 0pt 25px 0pt 0pt; width: 470px; float: left;"&gt;&lt;div id="ygrp-text"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Oleh Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD&lt;br /&gt;Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut&lt;br /&gt;Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage&lt;br /&gt;Foundation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu...Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahanyang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan&lt;br /&gt;anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa.. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang&lt;br /&gt;puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan lileratur yang ada tentang bagaimana&lt;br /&gt;pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut!&lt;br /&gt;Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak tahuannya!&lt;br /&gt;Anak-Anak Yang Digegas...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadapanak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuanintelektua l secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untukmenjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik dl dalam dan di luar sekolah. Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi&lt;br /&gt;pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang&lt;br /&gt;matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anakjenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian?&lt;br /&gt;James Thurber seorang wartawan terkemuka. pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis.Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, di mana seorang Ibu yang bernama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan&lt;br /&gt;kognitif anaknya, sejak si anak masih berupa janin.. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan&lt;br /&gt;kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun lamenjadi guru matematika di Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa. Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang&lt;br /&gt;terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Einstien yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun. Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan "Early Childhood Training". Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasanmya. .&lt;br /&gt;Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10%&lt;br /&gt;saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang di mana-rnana, di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Early Ripe, early Rot...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan 'peluang emas" bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah "Era Headstart" merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner, seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal "The Process of Education" pada tahun 1990. Ia menyatakan bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika . "We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any&lt;br /&gt;stage of development" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salahartikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk... early ripe, early rot!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep "kesiapan-readiness " dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang "biological limititations on learning'. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan&lt;br /&gt;intervensi dini dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi "miniature orang dewasa ". Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa. sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja&lt;br /&gt;anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnya saat perilaku anak menampilkan gaya "kedewasaan ", sementara perasaannya menangis berteriak sebagai "anak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki "Heintje" di era tahun 70-an... I'm Nobody'S Child I'M NOBODY'S CHILD I'M nobody's child I'm nobodys child Just like a flower I'm growing wild No mommies kisses and no daddy's smile Nobody's louch&lt;br /&gt;me I'm nobody's child.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak berikutnya terjadi ... ketika anak memasuki usia remaja Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut. Patricia O'Brien menamakannya sebagai "The Shrinking of Childhood". Lu belum tahu ya... bahwa gue telah melakukan segalanya", begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. "Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks" serunya bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar.... kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, sebuah proses dalam kehidupannya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga "baby sitter" sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai "Cinderella Syndrome" yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi rnenghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di&lt;br /&gt;lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut&lt;br /&gt;berbagai Les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi&lt;br /&gt;cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga&lt;br /&gt;jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di&lt;br /&gt;sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka&lt;br /&gt;kepada baby sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak&lt;br /&gt;mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan&lt;br /&gt;parenting di lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ERA SUPERKIDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan orangtua menjadikan anaknva "be special " daripada "be&lt;br /&gt;average or normal" sernakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin&lt;br /&gt;anak-anak mereka menjadi "to excel to be the best". Sebetulnya tidak&lt;br /&gt;ada yang salah. Nanun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai&lt;br /&gt;mengikuti berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka&lt;br /&gt;mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa,&lt;br /&gt;renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak&lt;br /&gt;lagi lainnya...maka lahirlah anak-anak super---"SUPERKIDS' ". Cost&lt;br /&gt;merawat anak superkids ini sangat mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era Superkids berorientasi kepada "Competent Child". Orangtua saling&lt;br /&gt;berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya "earlier is&lt;br /&gt;better". Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam&lt;br /&gt;pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik.&lt;br /&gt;Neil Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan&lt;br /&gt;bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka&lt;br /&gt;lihatlah... ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi&lt;br /&gt;orang dewasa yang ke kanak-kanakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERBAGAI GAYA ORANGTUA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan&lt;br /&gt;berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan&lt;br /&gt;"mis-education" terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind&lt;br /&gt;(1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara&lt;br /&gt;lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gourmet Parents-- (ORTU B0RJU)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah&lt;br /&gt;bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia,&lt;br /&gt;dengan gaya hidup kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka&lt;br /&gt;mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat&lt;br /&gt;karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan&lt;br /&gt;dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak.&lt;br /&gt;Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya&lt;br /&gt;membangun karier, maka "superkids" merupakan bukti dari kehebatan&lt;br /&gt;mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknya&lt;br /&gt;baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam&lt;br /&gt;program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran&lt;br /&gt;mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling&lt;br /&gt;dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah&lt;br /&gt;sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil&lt;br /&gt;terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua "gourmet " atau&lt;br /&gt;kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;College Degree Parents --- (ORTU INTELEK )&lt;br /&gt;Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah&lt;br /&gt;ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering&lt;br /&gt;melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya&lt;br /&gt;membantu membuat majalah dinding dan kegiatan ekstra kurikular&lt;br /&gt;lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari&lt;br /&gt;kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak&lt;br /&gt;mereka "Superkids ", apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik&lt;br /&gt;yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah&lt;br /&gt;mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya&lt;br /&gt;bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas.&lt;br /&gt;Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap&lt;br /&gt;kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak&lt;br /&gt;hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gold Medal Parents --(ORTU SELEBRITIS )&lt;br /&gt;Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya&lt;br /&gt;menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering&lt;br /&gt;mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada&lt;br /&gt;gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains&lt;br /&gt;yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia . Ada juga gelanggang&lt;br /&gt;seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes&lt;br /&gt;kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat&lt;br /&gt;meraih kemenangan dan merijadi "seorang Bintang Sejati ". Sejak dini&lt;br /&gt;mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi "Sang Juara", mulai dari&lt;br /&gt;juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik kelika&lt;br /&gt;anak-anak mereka masih berusia TK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang&lt;br /&gt;puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu&lt;br /&gt;di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok,&lt;br /&gt;dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta.&lt;br /&gt;Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat&lt;br /&gt;melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat,&lt;br /&gt;membujuk anak-anaknya bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai&lt;br /&gt;pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas&lt;br /&gt;kertas.Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku&lt;br /&gt;ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun&lt;br /&gt;70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK rnengalami kelainan tulang&lt;br /&gt;akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus "bintang cilik"&lt;br /&gt;Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa&lt;br /&gt;kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba&lt;br /&gt;hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang&lt;br /&gt;setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent&lt;br /&gt;menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik&lt;br /&gt;"Joshua" yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan&lt;br /&gt;orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan&lt;br /&gt;anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal.&lt;br /&gt;Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya&lt;br /&gt;Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak&lt;br /&gt;ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. kemudian&lt;br /&gt;di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum&lt;br /&gt;bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat&lt;br /&gt;membentuk dan menjadikan anaknya seorang "superkid" --seorang penyanyi&lt;br /&gt;sekaligus seorang bintang film.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do-it Yourself Parents&lt;br /&gt;Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami&lt;br /&gt;dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan&lt;br /&gt;professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di&lt;br /&gt;sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok&lt;br /&gt;ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu&lt;br /&gt;mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini&lt;br /&gt;juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya "Superkids" --earlier is&lt;br /&gt;better". Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai&lt;br /&gt;lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan&lt;br /&gt;atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok&lt;br /&gt;penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Outward Bound Parents--- (ORTU PARANOID)&lt;br /&gt;Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang&lt;br /&gt;dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan&lt;br /&gt;mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh&lt;br /&gt;dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan&lt;br /&gt;marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih&lt;br /&gt;memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran&lt;br /&gt;yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini&lt;br /&gt;secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep&lt;br /&gt;"Superkids". Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang&lt;br /&gt;hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam&lt;br /&gt;marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari&lt;br /&gt;bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya "Karate, Yudo, pencak Silat"&lt;br /&gt;sejak dini. Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik&lt;br /&gt;anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya&lt;br /&gt;di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi&lt;br /&gt;yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak.&lt;br /&gt;Akibatnya anak-anak mereka menjadi "steril"&lt;br /&gt;dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prodigy Parents --(ORTU INSTANT)&lt;br /&gt;Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak&lt;br /&gt;memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, narnun tidak&lt;br /&gt;berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia&lt;br /&gt;bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang&lt;br /&gt;sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan&lt;br /&gt;menumpulkan kemampuan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan&lt;br /&gt;hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti&lt;br /&gt;apa yang cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka&lt;br /&gt;sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak&lt;br /&gt;tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka&lt;br /&gt;sukai. Misalnya buku tentang "Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca"&lt;br /&gt;karangan Glenn Doman , atau "Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika"&lt;br /&gt;karangan Siegfried, "Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang" karangan&lt;br /&gt;Therese Engelmann, dan "Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam&lt;br /&gt;Waktu 9 Hari" karangan Sidney Ledson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Encounter Group Parents--( ORTU NGERUMPI )&lt;br /&gt;Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan.&lt;br /&gt;Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau&lt;br /&gt;terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang&lt;br /&gt;mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam&lt;br /&gt;perkawinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam&lt;br /&gt;membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini&lt;br /&gt;sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-­anak dengan&lt;br /&gt;berbagai perilaku "gang ngrumpi" yang terkadang mengabaikan anak.&lt;br /&gt;Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga&lt;br /&gt;mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka&lt;br /&gt;memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan&lt;br /&gt;kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk&lt;br /&gt;memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka&lt;br /&gt;sebagai "Superkids" juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak&lt;br /&gt;anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang&lt;br /&gt;diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)&lt;br /&gt;Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa&lt;br /&gt;kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang&lt;br /&gt;sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan&lt;br /&gt;menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan&lt;br /&gt;mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ini tidak berpeluang menjadi oraugtua yang melakukan&lt;br /&gt;"miseducation" dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mereka&lt;br /&gt;memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh&lt;br /&gt;perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan&lt;br /&gt;musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang&lt;br /&gt;makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi&lt;br /&gt;anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak&lt;br /&gt;mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah&lt;br /&gt;yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan&lt;br /&gt;rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam&lt;br /&gt;kehidupan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya&lt;br /&gt;dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak&lt;br /&gt;membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri&lt;br /&gt;keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain mereka percaya bahwa&lt;br /&gt;anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Bagi&lt;br /&gt;mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan&lt;br /&gt;kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih&lt;br /&gt;kuat, atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti&lt;br /&gt;daripada kenangan indah; terutama kenangan manis di masa kanak-kanak.&lt;br /&gt;Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang&lt;br /&gt;indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu&lt;br /&gt;pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan&lt;br /&gt;indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan&lt;br /&gt;terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang&lt;br /&gt;tersiampan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan&lt;br /&gt;satu hari untuk keselamatan kita" (destoyevsky' s brothers karamoz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK&lt;br /&gt;Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak&lt;br /&gt;didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah&lt;br /&gt;berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Sekolah&lt;br /&gt;terlihat sebagai sebuah "Industri" dengan tawaran-tawaran menarik yang&lt;br /&gt;mengabaikan kebutuhan anak. Ada program akselerasi, ada program kelas&lt;br /&gt;unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk. Tugas-tugas dalam bentuk&lt;br /&gt;hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk sebagai "Operator&lt;br /&gt;kurikulum" dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar karena&lt;br /&gt;rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang&lt;br /&gt;mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat&lt;br /&gt;menjadi "pengabar isi buku pelajaran" ketimbang menjalankan fungsi&lt;br /&gt;edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu&lt;br /&gt;sekolah akan menggunakan "mesin-mesin dalam menskor" capaian prestasi&lt;br /&gt;yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa potongan-potongan&lt;br /&gt;mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani&lt;br /&gt;pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau&lt;br /&gt;melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan&lt;br /&gt;organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika&lt;br /&gt;mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di&lt;br /&gt;pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal&lt;br /&gt;kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran? Tumpulnya rasa dalam&lt;br /&gt;mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang direfleksikan&lt;br /&gt;dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka sebagai anak&lt;br /&gt;menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang pengetahuan&lt;br /&gt;yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam&lt;br /&gt;kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam&lt;br /&gt;kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk&lt;br /&gt;sekolah? dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah&lt;br /&gt;untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan&lt;br /&gt;cara yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo&lt;br /&gt;Freire mengatakan bahwa sekolah telah melakukan "pedagogy of the&lt;br /&gt;oppressed" terhadap anak-anak didiknya. Di mana guru mengajar, anak&lt;br /&gt;diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru&lt;br /&gt;berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak mendengarkan,&lt;br /&gt;guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan mendesakkan&lt;br /&gt;pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya&lt;br /&gt;membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan&lt;br /&gt;anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah&lt;br /&gt;objek dari proses pembelajaran (Freire,1993) . Model pembelajaran&lt;br /&gt;banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan&lt;br /&gt;terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking&lt;br /&gt;wilayah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkompetensi Anak--- merupakan " KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN"&lt;br /&gt;Anak adalah anugrah Tuhan... sebagai hadiah kepada semesta alam,&lt;br /&gt;tetapi citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa&lt;br /&gt;yang bertanggungjawab. "(Nature versus Nurture) bagaimana ?" Karena&lt;br /&gt;ada dua pengertian kompetensi. kompetensi yang datang dari kebutuhan&lt;br /&gt;di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang&lt;br /&gt;sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John&lt;br /&gt;Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat&lt;br /&gt;ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita; sebagai komponen sentral&lt;br /&gt;dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka&lt;br /&gt;mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut : "Give&lt;br /&gt;me a dozen healthy infants, well formed and my own special world to&lt;br /&gt;bring them up in, and I'll guarantee you to take any one at random and&lt;br /&gt;train him to become any type of specialist I might select -- doctor,&lt;br /&gt;lawyer, artist, merchant chief and yes, even beggar and thief&lt;br /&gt;regardless of this talents, penchants, tendencies, vocations, and race&lt;br /&gt;of his ancestors "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan "intervensi dini"&lt;br /&gt;setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada&lt;br /&gt;anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut&lt;br /&gt;New Jersey pada tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian&lt;br /&gt;program tes untuk mengukur "Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic&lt;br /&gt;Skill)" dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari&lt;br /&gt;pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger&lt;br /&gt;kepada New York Times sebagai berikut : "The improvement in those&lt;br /&gt;areas were not the result of any magic program or any singular&lt;br /&gt;teaching strategy, they were.... simply proof that accountability is&lt;br /&gt;crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Yersey"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti&lt;br /&gt;Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang&lt;br /&gt;diilustrasikan sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami&lt;br /&gt;keterlambatan dalam akademik ketika mereka bersekolah di SD kelas&lt;br /&gt;rendah. Semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan dini&lt;br /&gt;sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompeten si perolehan&lt;br /&gt;pengetahuan hanya secara kognitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat&lt;br /&gt;menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti&lt;br /&gt;emosi, sosial, kognitif pisik, dan moral belum dapat dikemas dalam&lt;br /&gt;pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan&lt;br /&gt;sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang&lt;br /&gt;dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk&lt;br /&gt;dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja!.&lt;br /&gt;Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang&lt;br /&gt;berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus&lt;br /&gt;menerus merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali&lt;br /&gt;tumbuh kembang yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;Perilaku keingintahuan -"curiosity" inilah yang banyak tercabut dalam&lt;br /&gt;sistem persekolahan kita. Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah&lt;br /&gt;Pendidikan!. "Empty Sacks will never stand upright" --- George Eliot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif&lt;br /&gt;melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan&lt;br /&gt;membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang&lt;br /&gt;dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati..&lt;br /&gt;dan pisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup&lt;br /&gt;mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik&lt;br /&gt;akademik dan pendidik sanubari "karakter". Di mana mereka mendidik&lt;br /&gt;anak menjadi "good and smart " terang hati dan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan "how learn to learn" pada&lt;br /&gt;anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada&lt;br /&gt;anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi,&lt;br /&gt;dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka&lt;br /&gt;hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina&lt;br /&gt;dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan&lt;br /&gt;berbagai kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya&lt;br /&gt;berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison&lt;br /&gt;mengatakan bahwa "genius is 1 percent inspiration and 99 percent&lt;br /&gt;perspiration ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat belajar "encourage" tidak dapat muncul tiba-tiba di diri&lt;br /&gt;anak. Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan&lt;br /&gt;belajar. Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya&lt;br /&gt;yang tidak mencintai mereka sebagai anak. Selanjutnya misi sekolah&lt;br /&gt;lainnya yang paling fundamental adalah mengalirkan "moral litermy"&lt;br /&gt;melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja&lt;br /&gt;tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati sebuah&lt;br /&gt;pendidikan (Martin Luther King, Jr ). lnilah keharmonisan dari&lt;br /&gt;pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan,&lt;br /&gt;antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna&lt;br /&gt;dengan perbuatan yang baik ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang&lt;br /&gt;terang hati dan terang pikiran "good and smart" merupakan tugas kita&lt;br /&gt;bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras&lt;br /&gt;yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat,&lt;br /&gt;khususnya antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini&lt;br /&gt;banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak&lt;br /&gt;dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada&lt;br /&gt;yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek&lt;br /&gt;kognitif dan mengabaikan faktor emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini&lt;br /&gt;kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi "SUPERKIDS". Inilah&lt;br /&gt;fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari&lt;br /&gt;lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak&lt;br /&gt;karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa&lt;br /&gt;yang ke kanak-kanakan.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-2510097301082473305?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/2510097301082473305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=2510097301082473305' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/2510097301082473305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/2510097301082473305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/11/anak-anak-karbitan.html' title='Anak-Anak Karbitan'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-2637732716075499249</id><published>2008-11-26T00:45:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T00:47:54.487-08:00</updated><title type='text'>Keajaiban otak karunia Allah</title><content type='html'>Penelitian di Cambridge University membuktikan betapa&lt;br /&gt;dahsyatnya sebuah benda di dalam kepala manusia, yang&lt;br /&gt;bernama &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;OTAK&lt;/span&gt;. Mau bukti? Silahkan lanjutkan membaca&lt;br /&gt;artikel ini. Tapi jangan lupa, sehebat-hebatnya otak&lt;br /&gt;manusia, masih jauh lebih hebat Sang Penciptanya, 'tul kan?&lt;br /&gt;Ini sagnat menraik&lt;br /&gt;------------ --------- --&lt;br /&gt;Menuurt sbeauh penilitean di Cmabrigde Uinervtisy, tdaik&lt;br /&gt;mejnadi maslaah bgaimanaa urtaun hufur-hufur di dlaam&lt;br /&gt;sebauh kaat, ynag palngi pnteing adlaah leatk hruuf&lt;br /&gt;partema dan terkhair itu bnaer.&lt;br /&gt;Siasnya dpaat brantaaken saam skelai dan kmau maish&lt;br /&gt;dpaat mebmacanya tnpaa msaalah. Hal ini kreana oatk&lt;br /&gt;masunia tdaik mambeca seitap huurf msaing-msaing, tatepi&lt;br /&gt;kaat kesuleruhan.&lt;br /&gt;Manejkubakn naggk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by : Yansen&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-2637732716075499249?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/2637732716075499249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=2637732716075499249' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/2637732716075499249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/2637732716075499249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/11/keajaiban-otak-karunia-allah.html' title='Keajaiban otak karunia Allah'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-6164157980128003768</id><published>2008-11-25T23:48:00.000-08:00</published><updated>2008-11-25T23:49:20.510-08:00</updated><title type='text'>Mendidik Anak</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Kalau dilihat dari esensinya, mendidik adalah mengajak (memotivasi, mendukung, membantu, menginspirasi, dst)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang lain untuk melakukan tindakan positif yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain (lingkungan). Dimana letak samanya? Tuhan memberikan tanggung jawab tugas ini kepada semua manusia, siapapun dia, dan apapun status sosialnya. Bahwa kemudian ada profesi yang kita kenal, misalnya saja: dai, pendeta, kyai, &lt;i style=""&gt;public speaker&lt;/i&gt;, penceramah, penulis motivasi, konselor, dan lain-lain,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ya itu profesi. Lain profesi lain esensi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Men&lt;i style=""&gt;-dakwah&lt;/i&gt;-kan hal-hal positif itu menjadi tugas semua orang karena, salah satu alasannya, di dalam praktek hidup itu ada kenyataan yang pas untuk disebut dengan istilah "konsekuensi dosa kolektif". Kalau dalam suatu daerah ada &lt;i style=""&gt;illegal logging&lt;/i&gt; besar-besaran dan membabi buta, lalu sebagian besar penduduk di situ berdiam atau malah mendukung praktek &lt;em&gt;illegal&lt;/em&gt; itu, maka bencana banjir yang merupakan akibat logis dari praktek itu tidak dikenakan kepada hanya para penebang. Banjir itu akan melanda siapa saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini contoh yang bisa dianalogikan secara umum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Begitu juga dengan mengajar atau mendidik. Bahwa ada orang yang berprofesi sebagai guru, dosen, instruktur, dan seterusnya, ya itu profesi. Esensi pekerjaan mengajar sendiri ditugaskan kepada semua orang dan tidak pandang apa profesinya. Bukti riilnya adalah mengajarkan anak tentang hal-hal yang menurut kita itu baik, benar, dan bermanfaat kalau dijalankan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Sah-sah saja kita punya alasan, misalnya saja, saya bukan berprofesi pendidik, bukan keturunan guru, saya tidak bakat mengajar, saya tidak sabaran mengajari anak kecil, dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Tetapi yang menjadi soal bukan itu. Persoalannya adalah, ketika kita tidak mengajarkan sesuatu maka anak-anak kita tidak mendapatkan pengajaran dari kita. Padahal keberadaan kita bagi mereka sangatlah penting. Ini tentu sudah &lt;em&gt;mafhun&lt;/em&gt; bagi kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Saking pentingnya peranan kita itu bisa dilihat di berbagai temuan di bidang pendidikan. Ini misalnya dikatakan bahwa keluarga itu adalah sekolah yang pertama kali dilihat oleh anak. Banyak ahli mengatakan bahwa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;masa emas bagi perkembangan anak-anak itu pada masa lima tahun pertama. Ada yang mengatakan empat tahun. Ada yang mengatakan tiga sampai tujuh tahun. Ada yang mengatakan lagi sampai anak-anak itu menemukan dirinya sendiri dengan perkiraan usia minimalnya dua puluh tahun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Mana yang paling benar sebetulnya? Mungkin masalahnya bukan pada usia berapa orangtua itu berperan emas bagi anak-anaknya. Kenapa? Prakteknya, peranan orangtua bagi anak-anak itu tidak terbatasi oleh usia. Menurut teori lain, otak manusia itu bisa diajari, bisa belajar, atau bisa menerima pelajaran sepanjang hidup. Ini berarti bahwa orangtua itu tetap punya peluang emas untuk mengajarkan sesuatu sepanjang peluang itu digunakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Nah, terlepas dari obrolan di atas, sebetulnya ada satu hal yang ingin kita angkat di sini. Ini terkait dengan bagaimana memilih metode pendidikan yang pas untuk kita yang memang bukan berprofesi sebagai pendidik. Seorang ibu bahkan sempat mengutarakan kebingungannya. "&lt;i style=""&gt;Katanya, kita ini tidak boleh keras sama anak. Tapi katanya lagi, kita tidak boleh memanjakan anak. Jadi mana dong metode mendidik anak yang perlu diikuti?"&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Memang, dalam pendidikan dikenal sebuah &lt;i&gt;sabda&lt;/i&gt; yang bunyinya begini: "Metode yang kita gunakan untuk mendidik itu lebih menentukan keberhasilan pendidikan ketimbang materi yang kita berikan." Dengan &lt;i&gt;sabd&lt;/i&gt;a ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;banyak orang, terutama yang bukan pendidik, tidak &lt;i style=""&gt;pede&lt;/i&gt; dengan cara-cara atau metode yang diciptakannya sendiri dalam mendidik anak-anaknya. "&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Apakah metode ini salah atau betul?", "Apakah saya terlalu keras atau terlalu memanjakan si anak?"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan seterusnya dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Kalau kita kembalikan ke esesi di atas, sebetulnya Tuhan sudah &lt;i style=""&gt;fair&lt;/i&gt; di sini. &lt;i style=""&gt;Fair&lt;/i&gt; nya adalah, semua orang sudah dibekali kapasitas tertentu untuk mengajarkan sesuatu kepada orang lain, misalnya saja, kepada anaknya atau adiknya atau lingkungannya. Bahwa ada yang bergaya tegas, galak, sedikit cerewet, bahasanya halus, sabaran, dsb. Itu semua adalah gaya, sesuatu yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada prinsipnya bisa diubah sesuai usaha kita.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bukan hanya itu saja. Selain kita sudah diberi kapasitas dasar untuk mengajarkan sesuatu, kita pun sudah diberi &lt;i&gt;resources&lt;/i&gt; atau bekal untuk mengajar. Karena itu, apapun profesi kita, seperti apapun sifat-sifat dan kepribadian kita, ini semua tidak menjadi halangan untuk bisa menjadi pengajar atau pendidik di rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Apa saja prinsip-prinsip dasar yang perlu kita jalankan (bukan sekedar untuk diketahui) dalam mengajar atau mendidik (meski profesi kita bukan pendidik atau pengajar)? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Secara umum, prinsip-prinsip dasar itu bisa diuraikan sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;, menjauhi hal-hal yang ekstrim. Teori apapun di dunia ini pasti melarang yang satu ini. Contoh teori mendidik anak yang ekstrim itu misalnya kita dulu pernah mengalami perlakuan yang menurut kita keras dari orangtua. Sudah sedemikian keras orangtua itu mendidik kita, fasilitas hidup pun kurang, pas-pasan atau sangat dibatasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Sebagai reaksinya, kita menggunakan metode yang menjadi padanannya secara ekstrim. Misalnya saja kita terlalu memanjakan dan memberikan fasilitas yang berlebihan sebagai reaksi atau balasan atas masa lalu. Anak merasa punya kebebasan yang membuat dirinya tidak tahu apa yang boleh dan apa yang tidak, tidak tahu apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan, dan seterusnya. Atau misalnya saja anak merasa semua hidupnya diselesaikan dengan pembantu atau asisten orangtua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Nah, kalau menelaah temuan-temuan ilmu pengetahuan, anak yang menerima perlakuan terlalu ekstrim enaknya atau terlalu ekstrim tidak enaknya, itu sama-sama kurang bagus. Teori stress mengatakan, orang yang terlalu sedikit stress itu sama jeleknya dengan orang yang terlalu banyak stress. Teori kreativitas juga mengatakan yang sama. Untuk perkembangan kreativitas, terlalu tertekan itu sama-sama jeleknya dengan terlalu &lt;i style=""&gt;nyantai&lt;/i&gt;. Terlalu banyak tersedia fasilitas itu juga mungkin sama jeleknya dengan terlalu krisis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Konon, dengan semakin banyaknya tumbuh generasi keluarga kedua yang lebih makmur dari orangtuanya dulu, kini yang kerap dianggap menjadi persoalan adalah bagaimana me-militansi-kan mentalitas anak-anak. Militansi anak-anak terancam oleh berlimpahnya fasilitas dan kemanjaan yang tidak disentuh oleh nilai-nilai pendidikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seorang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bapak yang dulu anaknya pernah saya ajar mengatakan anak-anak sekarang ini cenderung tidak mau susah, gampang menyerah, maunya fasilitas duluan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Untuk bisa menghindari hal-hal yang ekstrim ini tentu tidak bisa kita capai dengan sekali-jadi. Ini adalah proses yang dinamis. Karena itu, idealnya adalah kita perlu me-&lt;i&gt;record&lt;/i&gt; berbagai proses pendidikan yang pernah kita terima, entah dari orangtua, lingkungan, atau sekolah. Ini agar kita punya data atau landasan untuk bisa menemukan yang "&lt;i style=""&gt;proper"&lt;/i&gt; buat anak-anak yang hendak kita didik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;, mendidik atau mengajar itu adalah "&lt;i style=""&gt;the game" &lt;/i&gt;(permainan yang bukan sekedar main-main). Dikatakan permainan berarti kita dituntut untuk mengeluarkan jurus-jurus yang sesuai dengan kondisi dan situasi di lapangan atau fakta-fakta yang ada. Atau kalau dipendekkan, harus sesuai dengan tindakan si anak pada &lt;i&gt;real time.&lt;/i&gt; Kalau kita membiarakan anak-anak hanya karena takut dikutuk teori pendidikan atau puisi pendidikan, padahal situasinya saat itu membutuhkan ketegasan sikap dari kita, ini juga tidak tepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Dengan kata lain, silahkan kita marah, lembut, diam, atau bersikap tegas, sejauh itu memang dibutuhkan oleh fakta-fakta di lapangan. Namanya juga bermain dan permainan. Yang terpenting dalam &lt;i&gt;the game &lt;/i&gt;itu, menurut nasehat Sun Zhu, adalah menjaga emosi dan memperhatikan perilaku orang lain. Dalam konteksnya dengan pendidikan adalah, jurus apapun yang kita keluarkan, hendaknya itu perlu kita niati untuk mendidik (&lt;i style=""&gt;to educate)&lt;/i&gt;. Artinya: menjaga emosi dan memperhatikan perilaku. Artinya lagi, teori apapun dalam pendidikan itu perlu kita tafsirkan dan jalankan dengan akal sehat dan jangan sampai "termakan" oleh teori. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kekurangan yang kerapkali kita jalankan tanpa sadar adalah, kita men&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;i&gt;judge&lt;/i&gt; anak bukan dari tindakannya atau kasusnya atau faktanya, melainkan menciptakan sebuah konsepsi-diri dalam bentuk sifat-sifat yang umum. Ini misalnya kita mengatakan si anak itu pemalas padahal yang kita maksudkan adalah anak menolak disuruh mengambil gelas di meja makan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Bahkan tak jarang anak menerima sebutan misalnya: anak yang bodoh, anak yang nakal, anak yang bla bla bla, dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Kekurangan lainnya adalah kita menjadikan jurus-jurus itu tanpa tujuan. Artinya, ketika marah, yang membuat kita marah adalah hanya kejengkelan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Ketika kita baik, yang membuat kita baik adalah karena tidak tahan ditekan sama anak. Idealnya, baik kita sedang galak atau sedang lembut, semua itu kita &lt;i style=""&gt;niati&lt;/i&gt; untuk mendidik atau mengarahkan mereka pada yang baik berdasarkan keadaannya. Tradisi orangtua kita berpesan, mendidik itu terkadang harus di depan, di tengah atau di belakang. Ini tergantung situasi dan medan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;, mempertimbangkan suasana batin dan lahir. Kalau mau jujur, metode pendidikan yang paling banyak kita gemari adalah metode ceramah, meskipun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menurut rumus pendidikannya, anak-anak itu lebih banyak menyerap dari apa yang kita lakukan (imitasi). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Nah, metode ceramah pun sebetulnya oke-oke saja sejauh kita melihat ada pengaruh positif. Yang sangat penting untuk kita jalankan bersama adalah, hendaknya jangan sampai kita berceramah pada saat kita marah atau si anak dalam kondisi batin yang tidak mendukung. Kalau pun itu sudah terlanjur kita lakukan, akan lebih baik kita menciptakan atau menemukan suasana baru yang mendukung untuk menjelaskan ulang materi ceramah kita di kesempatan yang berbeda. Lebih-lebih jika itu kita lakukan secara dialogis dan &lt;i style=""&gt;berduaan&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Nasehat itu diibaratkan seperti salju. Semakin lembut salju itu, semakin kuat daya serapnya ke bawah. Tao berpesan, dimanapun di dunia ini, yang lembut pasti mengalahkan yang kasar. Sayangnya, semua orang berpikir untuk menggunakan kekasaran dan mengabaikan kelembutan. Kita lebih cenderung berkesimpulan secara cepat bahwa kekasaranlah yang akan menang padahal nyatanya seringkali itu tipuan. Justru kelembutan yang akhirnya menjadi &lt;i&gt;the winner&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;, kesabaran. Semua orang sudah tahu bahwa kesabaranlah yang akhirnya memenangkan proses pendidikan. Dalam beberapa kasus terkait dengan kenakalan anak yang sudah pada tahap luar biasa, misalnya mengkonsumsi narkoba, kebodohan akademik yang dibarengi dengan kenakalan, dan lain-lain, maka yang kita saksikan adalah kesabaran di sana menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pemenangnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Kesabaran di sini maksudnya bukan membiarkan penyimpangan atau memendam protes dan kejengkelan yang tidak sanggup kita nyatakan, melainkan kontinyuitas kesadaran dan tindakan. Jadi kalau kita tetap sadar untuk menempati posisi sebagai pendidik atau pengajar dan terus melakukan hal-hal yang dibutuhkan dalam proses pendidikan itu, berdasarkan fakta yang kita lihat, berarti kita telah menjalankan prinsip kesabaran. Contoh yang paling riil itu misalnya adalah kesabaran yang dilakukan ibundanya Edison. Anaknya dinyatakan tidak pantas mengikuti pendidikan sekolah formal tapi ibunya tetap tidak percaya itu dan sabar dalam mendidik anaknya.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Karena kesabaran itu letaknya pada kontinyuitas kesadaran dan tindakan, makanya kerap kita dengar bahwa kesabaran ada tiga, yaitu: a) kesabaran dalam melakukan hal-hal yang berdampak baik, b) kesabaran dalam melawan / meluruskan penyimpangan, c) kesabaran dalam menghindari hal-hal yang berdampak buruk. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Bahkan kalau melihat literatur tentang perjuangan manusia, kesabaran ini diakui sebagai prinsip usaha yang tidak ada penggantinya. Kesabaran yang benar adalah kesabaran yang menjadi kekuatan kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Kelima&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;, keteladanan. Ini juga prinsip dalam pendidikan dan pengajaran. Mau kita paham teori pendidikan atau tidak, keteladanan adalah prinsip yang harus ada dalam proses pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Karena itu, dikatakan bahwa keteladanan itu bukan salah satu teori pendidikan, melainkan satu-satunya. Artinya, metode apapun yang kita gunakan, tetap harus ada keteladanan ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Dengan menggunakan kalkulasi yang tidak ideal, kita kerap menyaksikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;fakta-fakta dimana ada orang yang mungkin secara teori-tekstual tidak banyak tahu tentang perkembangan konsep-konsep pendidikan tetapi prakteknya berhasil mendidik orang, mau itu muridnya atau anaknya. Apa rahasia mereka? Dari yang kita lihat, rahasianya adalah ketaatan terhadap prinsip-prinsip utama yang jumlahnya sedikit, yang sudah kita ketahui, dan yang sudah dijalankan oleh mereka dengan sepenuh hati. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Ini misalnya adalah kesabaran, ketegasan atau keteladanan.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Menurut Kahlil Ghibran, anak-anak itu memang bukan milik kita. Mau kita miliki atau tidak kita miliki, anak-anak akan tetap memiliki dirinya sendiri dan menjadi milik kekasihnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Meskipun bukan milik kita, tetapi anak-anak itu menjadi tanggung jawab kita. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Tanggung jawab inilah yang pas untuk menerjemahkan status anak sebagai amanat dan ujian. Semoga bermanfaat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-6164157980128003768?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/6164157980128003768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=6164157980128003768' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/6164157980128003768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/6164157980128003768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/11/mendidik-anak.html' title='Mendidik Anak'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-3534985748507163509</id><published>2008-11-25T23:39:00.000-08:00</published><updated>2008-11-25T23:40:17.568-08:00</updated><title type='text'>KOTA TER .......</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Kadang sejarah suatu kota lebih tua dari pada sejarah negaranya. Di  situlah uniknya suatu kota. Berawal dari pertemuan antara manusia dengan manusia  lain, melakukan aktivitas, baik berdagang, berinteraksi, berkeluarga, hingga  membentuk komunitas. Maka terbentuklah suatu kota. Fakta-fakta berikut adalah  bentuk keunikan suatu hasil interaksi sosial manusia, dimana tidak hanya  sejumlah manusia berkumpul dan beraktivitas, tapi juga memunculkan sejumlah  identitas unik yang patut kita simak:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;1.Kota dengan jumlah penduduk  terbanyak di dunia&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://f453.mail.yahoo.com/ya/download?mid=1%5f1037%5fAFfFtEQAAD3dSSwGxQah4n%2fTxWo&amp;amp;pid=1.2.2&amp;amp;fid=Inbox&amp;amp;inline=1" /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kota &lt;b&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1227685065_0"&gt;Tokyo&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; yang diperkirakan memiliki jumlah  penduduk sebanyak lebih dari 33 juta jiwa. Sedangkan &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1227685065_1"&gt;New York&lt;/span&gt; dan &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1227685065_2"&gt;Sao Paulo&lt;/span&gt;  menduduki urutan kedua dan ketiga dengan jumlah penduduk masing-masing mencapai  17 juta.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;2.Kota dengan wilayah Terluas.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://f453.mail.yahoo.com/ya/download?mid=1%5f1037%5fAFfFtEQAAD3dSSwGxQah4n%2fTxWo&amp;amp;pid=1.2.3&amp;amp;fid=Inbox&amp;amp;inline=1" /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1227685065_3"&gt;Kota&lt;/span&gt; dengan wilayah terluas jatuh pada kota &lt;b&gt;Mount Isa &lt;/b&gt;yang  terletak di &lt;b&gt;barad laut Queensland, Australia&lt;/b&gt;. Luasnya mencapai hampir 41  ribu kilometer persegi dengan memiliki jalan raya kota sepanjang 189 km yang  merupakan jalan raya kota terpanjang di dunia.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;3.Kota terkecil di  dunia,&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://f453.mail.yahoo.com/ya/download?mid=1%5f1037%5fAFfFtEQAAD3dSSwGxQah4n%2fTxWo&amp;amp;pid=1.2.4&amp;amp;fid=Inbox&amp;amp;inline=1" /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik dalam hal ukuran kota maupun jumlah  penduduk? Itulah kota &lt;b&gt;Hum&lt;/b&gt; yang terletak di &lt;b&gt;Kroasia&lt;/b&gt; dengan jumlah  penduduk hanya 23 orang. Kota tua ini didirikan pada tahun 1102 yang sebelumnya  bernama Cholm, yang masih memiliki arsitektur gedung pada jaman abad  pertengahan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;4.Kota tertua dan kota termuda di  dunia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://f453.mail.yahoo.com/ya/download?mid=1%5f1037%5fAFfFtEQAAD3dSSwGxQah4n%2fTxWo&amp;amp;pid=1.2.5&amp;amp;fid=Inbox&amp;amp;inline=1" /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percaya atau tidak bahwa kota tertua dan  kota termuda berada di area wilayah yang sama? Buktinya adalah kota tertua di  dunia adalah kota &lt;b&gt;Jericho &lt;/b&gt;(di Arab disebut Ariha) yang diperkirakan  berusia lebih dari 10 ribu tahun.&lt;br /&gt;Sedangkan &lt;b&gt;kota termuda di dunia&lt;/b&gt;  jatuh pada kota &lt;b&gt;Tel Aviv,&lt;/b&gt; yang berusia sekitar 80 tahun. Dan dua kota itu  berada dalam wilayah timur tengah yang terus menerus bergolak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://f453.mail.yahoo.com/ya/download?mid=1%5f1037%5fAFfFtEQAAD3dSSwGxQah4n%2fTxWo&amp;amp;pid=1.2.6&amp;amp;fid=Inbox&amp;amp;inline=1" /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;5.Kota Dengan Daratan Paling Tinggi  Didunia.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://f453.mail.yahoo.com/ya/download?mid=1%5f1037%5fAFfFtEQAAD3dSSwGxQah4n%2fTxWo&amp;amp;pid=1.2.7&amp;amp;fid=Inbox&amp;amp;inline=1" /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kota yang berada di daratan tertinggi  dipegang oleh kota &lt;b&gt;Potosi di Bolivia, &lt;/b&gt;yang memiliki ketinggian sekitar  4100 meter (13.500 kaki) di atas permukaan laut! Kota ini juga ditetapkan UNESCO  sebagai warisan dunia yang harus dilindungi.Selain sebagai kota tertua di dunia,  &lt;b&gt;Jericho&lt;/b&gt; juga dianggap sebagai kota dengan daratan paling rendah di dunia.  Kota tersebut berada 260 meter (853 kaki) di bawah permukaan laut! &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;6.Kota Terjangkung di dunia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://f453.mail.yahoo.com/ya/download?mid=1%5f1037%5fAFfFtEQAAD3dSSwGxQah4n%2fTxWo&amp;amp;pid=1.2.8&amp;amp;fid=Inbox&amp;amp;inline=1" /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Hong Kong&lt;/b&gt; adalah kota dengan julukan kota 'terjangkung' di  dunia, karena memiliki sekitar lebih dari 7.500 gedung pencakar langit, lebih  banyak dari gedung 'penggaruk langit' yang dimiliki kota New  York.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;7.Kota pertama yang jumlah penduduknya 1jt  orang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://f453.mail.yahoo.com/ya/download?mid=1%5f1037%5fAFfFtEQAAD3dSSwGxQah4n%2fTxWo&amp;amp;pid=1.2.9&amp;amp;fid=Inbox&amp;amp;inline=1" /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1227685065_4"&gt;Tahukah Anda&lt;/span&gt;, bahwa kota pertama yang  jumlah penduduknya 1 juta orang adalah &lt;b&gt;Roma, Italia&lt;/b&gt;, pada 133 SM? Jumlah  penduduk di London, Inggris mencapai 1 juta pada 1810, dan New York City, New  York. di AS mencapainya pada 1875. Kini ada lebih dari 300 kota di dunia dengan  penduduk lebih dari 1 juta orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling terakhir adalah yang  paling unik…….&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;8.Kota Paling Sering Kena Banjir sedunia&lt;/b&gt; ….,  ha3&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://f453.mail.yahoo.com/ya/download?mid=1%5f1037%5fAFfFtEQAAD3dSSwGxQah4n%2fTxWo&amp;amp;pid=1.2.10&amp;amp;fid=Inbox&amp;amp;inline=1" /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt; terunik lainnya yaitu kota &lt;b&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1227685065_5"&gt;Jakarta&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;yang  terletak di&lt;b&gt; indonesia,&lt;/b&gt; asia tenggara, kota ini masuk kategori kota paling  sering kebanjiran sedunia. he.. he… he…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-3534985748507163509?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/3534985748507163509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=3534985748507163509' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/3534985748507163509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/3534985748507163509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/11/kota-ter.html' title='KOTA TER .......'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-5644030897465949257</id><published>2008-11-25T23:26:00.000-08:00</published><updated>2008-11-25T23:29:48.116-08:00</updated><title type='text'>Wanita oh Wanita</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cfadya%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="SV" &gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 204); font-weight: bold;"&gt;Semoga bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah artikel tentang : &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Istimewanya seorang Wanita Semoga bermanfaat..&lt;br /&gt;Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan dibawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.&lt;br /&gt;2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.&lt;br /&gt;3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.&lt;br /&gt;4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.&lt;br /&gt;5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.&lt;br /&gt;6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.&lt;br /&gt;7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.&lt;br /&gt;8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk"MEMERDEKAKAN WANITA ".&lt;br /&gt;Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?&lt;br /&gt;1.&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata&lt;br /&gt;tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;wanita.&lt;br /&gt;2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?&lt;br /&gt;3.&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan,ia perlu/wajib juga&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.&lt;br /&gt;4. Wanita perlu&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;bersusah payah mengandung dan melahirkan anak,tetapi tahukah bahwa&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.&lt;br /&gt;5.&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabk an terhadap&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;4 wanita, yaitu : Isterinya , ibunya, anak perempuannya dan saudara&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.&lt;br /&gt;6.&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu : sholat 5&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.&lt;br /&gt;7.&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH,&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita... kan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat&lt;br /&gt;firman Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya,&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;sampai kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan buatan mereka.&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;(emansipasi ala western) Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;akan manusia, sehingga segala hukumnya / peraturannya, adalah YANG&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum&lt;br /&gt;lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu. Adalah sabda&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;Rasulullah bahwa ke tika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan,&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah yang baik, maka&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;surga adalah jaminannya. (untuk anak laki2 berlaku&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;kaidah yang berbeda). Berbahagialah wahai para muslimah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="ES" &gt;Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini.&lt;span style="color:navy;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tunaikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;All the best for women....&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-5644030897465949257?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/5644030897465949257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=5644030897465949257' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/5644030897465949257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/5644030897465949257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/11/wanita-oh-wanita.html' title='Wanita oh Wanita'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4832733380185572917.post-8507303380016299103</id><published>2008-11-25T22:51:00.000-08:00</published><updated>2008-11-25T23:05:12.017-08:00</updated><title type='text'>Sebuah kisah di kelas 8</title><content type='html'>Hari ini rabu, 26 November 2008. Hujan menyelimuti sekolah kami dan sekitarnya, udara begitu dingin dengan hembusan angin yang begitu kencangnya. Hari ini pada jam ke 5 dan 6, saya mengajar disuatu kelas yang terletak di sudut sekolah. Hari ini pelajaran IPS, yang dibagi menjadi dua sesi yaitu Geografi dan Sejarah. Namun, sungguh mengecewakan siswa-siswa yang ada dikelas 8 ini, berulang kali tidak mengerjakan tugas, padahal tugas tersebut sudah diberikan satu minggu yang lalu. Akhirnya saya minta keluar dari kelas, dan untuk sementara tidak dapat mengikuti pelajaran IPS, sebagai konsekuensi tidak mengerjakan tugas tersebut. Namun, betapa kagetnya saya, semua siswa laki-laki tidak mengerjakan tugas (kompak), saya sungguh kecewa dengan sikap mereka, akhirnya saya mengambil keputusan, agar mereka membuat surat pernyataan dan ditandatangani wali kelas, agar dapat mengikuti pelajaran saya. Saya tunggu selama pelajaran berlangsung, namun tidak ada siswa satupun merespon hal tersebut. Saya sungguh kecewa dengan sikap siswa laki-laki dikelas 8 tersebut, mereka tidak peduli. Akhirnya saya bertanya dalam hati, apakah mereka tidak peduli dengan masa depan mereka, apakah mereka tidak merasa rugi dengan sikap mereka seperti ini. Semoga saja mereka dapat berfikir lebih jernih lagi, mengenai hal ini. Saya meminta kepada orang tua untuk terus memperhatikan dan membimbing putra-putrinya dirumah, karena masa depan bangsa ini ada ditangan mereka. Apa jadinya bangsa ini apabila generasi penerus malas dalam belajar dan tidak peduli akan masa depannnya. Semoga menjadi perhatian kepada semua pihak yang peduli dengan dunia pendidikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4832733380185572917-8507303380016299103?l=fadya-novita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fadya-novita.blogspot.com/feeds/8507303380016299103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4832733380185572917&amp;postID=8507303380016299103' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/8507303380016299103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4832733380185572917/posts/default/8507303380016299103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fadya-novita.blogspot.com/2008/11/sebuah-kisah-di-kelas-8.html' title='Sebuah kisah di kelas 8'/><author><name>fadya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17450466719999355915</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Np5EkouG84/SS0DCy2r2zI/AAAAAAAAAFI/XuxHY4evvGk/S220/Foto(402).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
